Assalamu alaykum warrohmatullahiwabarakatuh

Islam bangkitlah ...

Sabtu, 22 Agustus 2009

al furqon ( the lie furqan )

20 Tahun "Rencana Islam ‘Menghijaukan’ Amerika"

:: Catatan ketakutan seorang evangelis Amerika terhadap Islam ::
Dr. Anis Sorrosh, seorang pendeta asal Arab-Palestina yang kini hidup di Amerika adalah seorang evangelis cukup terkenal. Ia pernah beberapa kali ber-debat dengan almarhum Ahmad Deedat, seorang Kristolog terkemuka dunia.

Sorrosh juga pernah menulis “The True Furqan”. Buku ini secara sengaja diterbitkan untuk mengaburkan bacaan kaum Muslimin terhadap Kitab Suci, Al-Quran. Di antaranya, ia mengganti arti “Bismillah” dengan “Bismil Abi, Wal Ibni, Waruu hil Quds” (dengan nama Tuhan Bapak, Anak dan roh kudus). Seolah-olah Al-Quran itu meyakini ketuhanan Yesus. Namun usaha pemalsuan Al-Qur’an ini tak ada efek berarti di kalangan Muslim. Sebab, kebanyakan kaum Muslim hafal ayat-ayat suci sehingga cepat ketahuan mana yg asli dan mana yg palsu.

Baru-baru ini, ia menulis sebuah artikel berjudul, “Twenty-Year Plan: Islam Targets America”, Shorrosh memaparkan kemungkinan Islam dalam 20 tahun ke depan di Amerika Serikat. Menurutnya, ada 20 kemungkinan kaum Muslim ‘menghijaukan’ AS.

Karena sebagian di antara analisanya itu bisa dikategorikan fitnah dan provokasi, hidayatullah.com menurunkan dan merubah judulnya menjadi, “20 Tahun "Rencana Islam “Menghijaukan” Amerika": [Catatan ketakutan seorang evangelis Amerika terhadap Islam].”

Analisa Sorrosh ini menunjukkan rasa kekhawatiran seorang evangelis yang tinggi bila selama dua puluh tahun ke dapan, tepatnya tahun 2020, Islam akan mampu ‘merebut’ Amerika Serikat. Di bawah ini kutipannya.

20 poin analisis Islam ‘mengambil alih’ Amerika pada Tahun 2020
1. Menggantikan kebebasan berpendapat orang Amerika dg sikap kebencian di seluruh dunia.
2. Berperang dengan kata-kata yang berasal dari pemimpin berkulit hitam, bahwa Islam di Amerika adalah agama asli di sana. Anehnya tidak ada satupun fakta yang menyebutkan bahwa orang-orang Arab menangkap dan menjual mereka sebagai budak. Yang ada adalah penyebutan untuk orang kulit hitam dan budak adalah sama yaitu “Abed.”
3. Perlawanan terhadap publik Amerika akan kebaikan Islam.
4. Mencalonkan simpatisan Muslim ke meja politik.
5. Mengambil alih media dan internet dengan membeli perusahannya atau pemegang saham.
6. Mendorong ketakutan terhadap terbatasnya/habisnya persediaan minyak di Timur Tengah.
7. Memprotes setiap saat akan kritik terhadap Islam atau analisis tentang Al-Quran di area publik.
8. Menempati posisi pemerintahan, mendapat keanggotaan dalam panggung sekolah lokal, memberikan pelatihan kepada orang-orang Muslim sebagai doktor-doktor untuk mendominasi bidang kesehatan, penelitian, dan perusahan farmasi. Belum pernah diketahui keberadan jumlah doktor-doktor Muslim di Amerika.
9. Mempercepat pertumbuhan Islam melalui: a. Perpindahan besar-besaran (100.000 tiap tahun sejak 1961) b. Menikahi orang-orang Amerika dan mengislamkan mereka (10.000 pertahun) c. Mengubah kemarahan, menjadikan orang-orang kulit hitam sebagai Islam militan (2000 tahanan telah bergabung dengan Al-Qaidah)
10. Masjid-masjid dan pusat pendidikan harus mengajarkan kebencian terhadap Yahudi, evangelis Kristen dan demokrasi. Ratusan sekolah Muslim harus lebih loyal kepada Al-Quran bukan pada hukum Amerika.
11. Memberikan bantuan kepada perguruan tinggi dan universitas di Amerika untuk pengembangan “pusat studi Islam”.
12. Memberitahukan bahwa kata-kata teroris telah ‘membajak Islam’, padahal sebenarnya tidak, dan bahwa Islam-lah yang ‘membajak teroris’.
13. Menyeru kepada orang-orang Amerika untuk bersimpati terhadap orang-orang Muslim yang ada di Amerika dengan menggambarkan sebagai imigran terbesar yang negaranya tertindas.
14. Meruntuhkan pengertian Amerika dari keamanan dengan kesalahfahaman bahwa akan ada penyerangan terhadap, jembatan, terowongan, persediaan air, bandara, gedung apartemen dan mal-mal.
15. Menghasut narapidana dengan permintaan akan hukum Islam, bukan hukum Amerika.
16. Menaikan dana/amal melalui dolar tapi digunakan utk mendanai aksi keislaman/teror Islam.
17. Menumbuhkan kecintaan terhadap Islam di kampus dan universitas dengan meminta kepada mahasiswa baru untuk mengambil mata kuliah atau kursus keislaman. Meyakinkan pada orang amerika, orang-orang Kristen, dan para sarjana bahwa Al-Quran dapat menangani kekerasan melalui cinta damai, spiritual dan aspek keagamaan
18. Berkonsolidasi dengan orang-orang Muslim, masjid, pusat studi Islam dan media melalui internet dan menangani acara tahunan untuk menyusun rencana penyebaran dakwah.
19. Menyebarkan pesan ketakutan kepada orang yang berusaha mengkritik terhadap Islam dan mencarinya untuk dimusnahkan dengan cara apapun.Menghargai orang-orang Muslim yang loyal terhadap Amerika, dengan menyorotinya sebagai pemberi suara terbesar dari minoritas dan etnik di Amerika
20. Menghargai orang-orang Muslim yang loyal terhadap Amerika, dengan menyorotinya sebagai pemberi suara terbesar dari minoritas dan etnik di Amerika. (Didin/Hidayatullah.com)



-- oOo --
Berikut, tanggapan Ust. Syamsi Ali (Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York) atas beredarnya The True Furqon:
...Al Furqon Al Haq (The True Furqon): Sebuah Kedustaan & Pengakuan Kegagalan...
"Sungguh besar kalimat (dusta) yang mengalir dari mulut-mulut mereka, namun tak lain apa yang diucapkan kecuali kebohongan" (S. Al Kahf: 5)

Akhir-akhir ini ummat Islam di berbagai belahan dunia kembali diresahkan oleh penulisan sebuah buku yang kemudian diklaim sebagai "tandingan" Al Qur'an. Judul buku tersebut juga diambil dari salah satu sifat Al Qur'an, yaitu "Al Furqaan" (pembeda antara kebenaran dan kebatilan). Saya sendiri menerima buku ini sekitar Juli 2001 lalu dan pada awalnya saya menganggapnya sesuatu yang tidak berharga. Sebagai seorang Muslim yang hidup di tengah-tengah non Muslim, propaganda murahan seperti ini merupakan hal biasa. Membaca, menyaksikan dan bahkan mengalami kebohongan seperti ini sudah merupakan santapan sehari-hari. Sikap saya ini juga merupakan sikap sebagian besar pemimpin komunitas Muslim di AS, yang menganggapnya sebagai pembuktian ayat Allah: "Meraka hendak memadamkan (cahaya agama) Allah dengan mulut-mulut mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir membenci" (Ash Shaff: 8).

Dalam pengantarnya di buku tersebut, kedua penulis yang tidak pernah menyebutkan nama lengkapnya, Al Saffee dan Al Mahdy, tidak menyebutkan buku ini sabagai tandingan Al Qur'an dan hanya menyatakan seruannya: "Kepada bangsa-bangsa Arab khususnya dan ummat Islam umumnya di seluruh dunia: Salam sejahtera dan rahmat Allah Yang Berkuasa atas segala sesuatu". Namun dalam pengantarnya di Amazon.com, penulis dengan terus terang mengatakan bahwa buku ini adalah "the most plausible challenge to the Arabic Quran in history" (Tantangan yang paling nyata terhadap Al Qur'an berbahasa Arab dalam sejarah)"

Bagi penulis, buku ini ditujukan kepada ummat Islam dan ummat Kristiani sekaligus, untuk tujuan berbeda. Untuk ummat kristiani ditujukan agar mereka mendapatkan bukti-bukti substansial akan kebenaran kitab injil, sekaligus mendapatkan tanda tanya besar akan kesahihan Al Qur'an. Sementara untuk umat Islam ditujukan agar mereka mendapatkan pelajaran dan pengalaman bercahaya. Dalam "press release" yang dikeluarkan oleh Baptist Press tanggal 27 Mei 1999, ketika awal penerbitan buku yang dipersiapkan selama tujuh tahun ini, Al Mahdy mengatakan dengan penuh optimisme: "Hendaknya ummat Kristiani di seluruh penjuru dunia mempersiapkan diri untuk menyambut kehadiran ummat Islam yang akan murtad ke tengah-tengah mereka".

Setelah membaca sekali lagi buku tersebut, ternyata sangkaan saya selama ini semakin kuat bahwa buku ini sesungguhnya tidak lebih dari sebuah "sampah" yang tidak berharga. Ditinjau dari segi bahasa apalagi dari segi substansi, buku ini hanya menggambarkan iri hati dan kebencian yang sangat terhadap kebenaran, yang oleh Al Qur'an digambarkan sebagai "hasadan min 'indi anfusihim" (dengki dari dalam diri mereka sendiri).

Buku ini sesungguhnya membuka "borok lama" bahwa memang ada di antara manusia yang senang mencipta buku, yang kemudian diakui sebagai wahyu Tuhan. Dengan terbitnya buku al furqaan al haq ini, terbukti pula satu ayat Al Qur'an yang menyatakan "mereka menulis kitab dengan tangan-tangan mereka, kemudian mengatakan bahwa ini (kitab)dari sisi Allah. (Yang dengannya), mereka membelih ayat-ayat Allah dengan harga yang murah". Kitab ini, diakui penulis, bukan Al Qur'an dan bukan pula Injil. Melainkan ciptaan baru yang diakui sebagai petunjuk (wahyu) untuk menerangi jalan manusia. Dengan demikian, ini merupakan pembuktian karakter dasar mereka yang senang mencipta-cipta buku dan diakui sebagai wahyu dari Allah. Tidakkah ini cukup menjadi bukti bahwa kitab suci yang mereka yakini saat ini adalah juga ciptaan manusia seperti ini?

Penulis secara jujur mengakui ketinggian bahasa Al Qur'an. Namun sangat keliru ketika mengatakan bahwa bahasa buku ini menyerupai bahasa Al Qur'an. Kutipan ayat-ayat Al Qur'an secara sepotong-sepotong dalam buku ini, dapat dirasakan dengan "dzawq lughawi" (rasa bahasa), betapa berbeda dengan kata-kata sisipan dari penulis. Secara gramatik misalnya, penulis sesungguhnya tidak menyadari bahwa penyerupaan "BismillahirRahmaniRahim" dg "Bismilaab-alkalimah-ar ruuh-al ilaah al waahid al awhad" merupakan pengingkaran terhadap keyakinan dasar mereka sendiri. Karena kata benda dalam kalimat ini hanya "Aab" saja. Sementara semua kata selanjutnya adalah kata sifat dari Aab. Tanpa disadari penulis telah mengingkari konsep trinitas yang meyakini Bapak sebagai Dzat (benda), anak sebagai dzaat (benda) dan Roh kudus sebagai dzaat (benda). Sementara dalam kalimat ini, hanya Aab (bapak) saja sebagai benda, selebihnya hanya sifat dari Aab (tuhan bapak).

Sangat disayangkan, di tengah gencarnya upaya-upaya mengharmoniskan hubungan antar pemeluk agama, saat ini masih ada orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri. Justifikasi kebenaran dengan kedustaan merupakan sebuah kanaifan akan kebenaran itu sendiri. Justifikasi kebenaran kitab suci dengan kedustaan hanyalah indikasi akan kenaifan kitab suci itu sendiri dalam kebenarannya. Saya menilai, buku ini sesungguhnya adalah sebuah pengkhianatan terhadap injil. Karena kenaifan injil inilah maka diperlukan kitab lain untuk menunjuki jalan manusia.

Akhirnya, saya menghimbau kiranya semua ummat beragama perlu menanamkan kejujuran pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin Anda dapat mengajak kepada keimanan, sementara anda menebarkan kedustaan? Saya sepertinya bisa memahami sikap Salman Rusydi karena dia memang tidak meyakini sebuah agama. Tapi saya justeru terheran dengan sikap pemimpin agama yang berjiwa kerdil.

Bagi ummat Islam, anggap saja kasus ini sebagai krikil kecil dalam perjuangan, yang justeru mempertebal keimanan. Percayalah, kebenaran Kalam Allah tak akan ternodai secuil pun dengan kedustaan para pendusta: "Sungguh Kami menunrunkan "Dzikra (Al Qur'an) ini, dan sungguh Kami pula yang menjaganya" dan "Katakanlah: Sesungguhnya walau manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang tulisan yang menyerupai Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan bisa membuat yang serupa dengannya, walaupun di antara mereka saling membantu (dalam kebatilan)" demikian jaminan Allah.

Tanggapan lain:
Assalamualaikum Wr.Wb.
Seperti yang dilaporkan oleh majalah Tempo edisi minggu ini, 18-24 Maret, saat ini sedang beredar sebuah buku dengan judul "The True Furqan". Buku ini memang ditulis dengan sengaja untuk mengaburkan bacaan kaum Muslimin terhadap Kitab Suci yang sesungguhnya dan yang palsu. Hal ini dibuktikan dengan pengantar yang menyebut "Kitab ini ditujukan secara khusus kepada kaum Muslimin dan Arab".

Saya pribadi telah menerima buku ini sejak sekitar 3 bulan silam. Buku ini diterbitkan tanpa menyebutkan nama penerbit, namun menyertakan alamat pos dan tanpa nomor telepon. Setelah mengecek lebih jauh, ternyata sosok utama di balik dari terbitnya buku ini adalah Dr. Anis Shorrosh, lawan debat Ahmad Deedat tentang Ketuhanan Jesus pada masa lalu. Jika anda membuka alamat di bawah ini, anda dapati siapa dan bagaiamana awal dari tumbuhnya buku tersebut.

Yang pasti, buku ini memang ditujukan sebagai pemalsuan Kitab Suci Al Qur'an. Berbagai surah dinamai dengan surah-surah Al Qur'an seperti An Nur, Al Fatihah, dll. "Bismillah" pada setiap surah diganti dengan "Bismil Abi, Wal Ibni, Waruuhil Quds" (dengan nama bapak, anak dan roh qudus).

Untuk itu, bersama ini saya himbau kepada semua untuk berhati-hati. Saya yakin, terbitnya buku ini tak lebih dari sebuah pembuktian akan tantangan Allah "dan jika kami ragu dengan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datanglah satu surah (pada ayat lain 10 surah, dan pada ayat lain disebutkan semisal) yang serupa, dan ajaklah seluruh pembantumu selain Allah, jika kami jujur". Dan sudah pasti, jika anda tahu bahasa Arab dengan grammar (nahwu sharaf dan balaghah) serta mempergunakan logika serta "common sense" saja, anda akan menemui buku ini tak lebih dari "rabbish" yang sudah kumuh di pinggir jalan.

Sayang sekali, pada website Sorrosh ditemukan komentar-komentar, entah direkayasa, bahwa buku ini seolah lebih baik dari Al Qur'an. Padahal, di antara komentator tersebut terdapat pastor terkenal, seperti Billy Graham. Namun memang, logika seringkali tersembunyi di balik "dendam" terhadap nur Ilahi yang semakin menyilaukan mata-mata hati manusia, khususnya di bagian barat bumi ini.

Coba buka alamat ini, dan pastikan bahwa anda cukup landasan untuk memahami tulisan-tulisan Shorrosh. Lihat di bagian bawah website ini, ada "project khusus" untuk mengaburkan Islam yang sesungguhnya para politisi Amerika dengan nama "Project Informing Washington" on the truth of Islam. Ternyata, dalam tulisan-tulisan Shorrosh disebutkan bahwa tanpa disengaja, saat ini kita (Amerika) telah kedatangan invasi yang membahayakan. Itulah "ru'bah" (ketakutan) dan "hasadan" (dengki) yang telah tertanam dalam dirinya terhadap kebenaran ini. http://islam-in-focus.com/TheTrueFurqan.htm


Akhirnya, "mereka ingin memadamkan cahaya Allah, namun Allah menolak hingga cahayaNya terang benderang, walau orang-orang musyrik itu membenci".

jawaban untuk Nonmuslim dari alquran

1. ‘Mereka’
Q18:56. Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira & sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang kafir membantah dg batil agar dg demikian mereka dapat melenyapkan (yg) hak, & mereka menganggap ayat-ayat kami & peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.
Q27:4. Sesungguhnya orang-orang (yg) tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan).
Q31:6. Dan di antara manusia (ada) orang mempergunakan perkataan tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan & menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab menghinakan.
Q30:29. Tetapi orang-orang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah akan menunjuki orang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.
Q45:9. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah memperoleh azab menghinakan.
Q15:12. Demikianlah, Kami mamasukkan (rasa ingkar & memperolok-olokkan itu) kedalam hati orang-orang berdosa (orang-orang kafir),
Q18:57. Dan siapakah lebih zalim dari pada orang telah diperingatkan dg ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya & melupakan apa telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, & (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; & kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.

2. ‘Mereka’ itu dikasih tahu atau tidak, tetap saja kafir, kecuali Allah swt berkehendak lain…
Q36:10. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.
Q4:88 Barangsiapa disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.
Q6:39. Dan orang-orang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu & berada dalam gelap gulita. Barangsiapa dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan lurus.
Q6:125. Barangsiapa Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang tidak beriman.
Q7:186. Barangsiapa Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.
Q16:37. Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang disesatkan-Nya, & sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong.

Q7:179. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin & manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) & mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), & mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang lalai.
Q25:44. …atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).

3. Peringatan/nasehat hanya bermanfaat bagi mereka yang beriman
Q38:87. Al Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.
Q16:125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dg hikmah & pelajaran baik & bantahlah mereka dg cara baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah lebih mengetahui tentang siapa tersesat dari jalan-Nya & Dialah lebih mengetahui orang-orang mendapat petunjuk.
Q30:53. Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang beriman dg ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang berserah diri (kepada Kami).
Q51:55. Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.
Q2:256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan benar daripada jalan sesat. Karena itu barangsiapa ingkar kepada Thaghut & beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali amat kuat tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Q6.70. Dan tinggalkanlah orang-orang menjadikan agama mereka sebagai main-main & senda gurau, & mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dg Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung & tidak pula pemberi syafa'at selain daripada Allah.

4. Biarkanlah ‘mereka’ bermain-main dalam kesesatannya, jangan terpancing dan jangan ikuti alur (keinginan) ‘mereka’
Q4:140. Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari & diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dg mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik & orang-orang kafir di dalam Jahannam,
Q6.68. Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).
Q19:75. Katakanlah: "Barang siapa berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa diancamkan kepadanya, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa lebih jelek kedudukannya & lebih lemah penolong-penolongnya."
Q43:83. Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) & bermain-main sampai mereka menemui hari dijanjikan kepada mereka.

5. (Penyesalan) ‘Mereka’ di akhirat kelak
Q26:6. Sungguh mereka telah mendustakan (Al Quran), maka kelak akan datang kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita selalu mereka perolok-olokkan.
Q4:115. Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, & mengikuti jalan bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan telah dikuasainya itu & Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, & Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
Q14:44. Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau & akan mengikuti rasul-rasul." (Kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?”
Q39:71. Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya & berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu & memperingatkan kepadamu akan pertemuan dg hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)."Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang kafir.
Q67:8-10. hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: "Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?" Mereka menjawab: "Benar ada", sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) & kami katakan: "Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan besar." Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka menyala-nyala."
Q35:37. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal saleh berlainan dg telah kami kerjakan." Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa cukup untuk berfikir bagi orang mau berfikir, & (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) & tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolongpun.
Q78:40. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa dekat, pada hari manusia melihat apa telah diperbuat oleh kedua tangannya; & orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah."
Q18:106. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka & disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku & rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.

Pedihnya azab neraka!
Q4:56 "Sesungguhnya orang-orang kafir terhadap ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka, setiap kali kulit mereka terbakar hangus, Kami ganti kulit mereka dgn kulit yg lain agar mereka merasakan pedihnya azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagiMaha Bijaksana."

Secara anatomi lapisan kulit terdiri atas 3 lapisan global yaitu: Epidermis, Dermis, & Sub Cutis. Pada lapisan Sub Cutis terdapat banyak ujung pembuluh darah & syaraf, sehingga ketika terjadi combustio grade III (luka bakar yg telah melampaui lapisan Sub Cutis) maka rasa nyeri akan hilang. Hal ini disebabkan karena sudah tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferent yang membangkitkan sensasi persepsi. Itulah sebabnya Allah swt menumbuhkan kembali (mengganti) kulit yg rusak pada saat ia menyiksa hamba-Nya yg kafir supaya hamba-Nya tersebut dapat merasakan pedihnya azab Allah swt tersebut.

Artikel lain tentang neraka: http://adanipermana.000webhost.info/Artikel/neraka1.htm

Kamis, 13 Agustus 2009

tanda tanda sahid pada zenazah air dan eko

Jakrata (arrahmah.com) - Pagi ini, Kamis, 13-08-09 sebuah sms masuk ke redaksi Arrahmah.com. Si pengirim sms teryata saksi mata yang baru saja mengikuti proses pemakaman Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono, di Solo, Jawa Tengah.
Si pengirim sms bersaksi bahwa dia dan banyak pelayat lainnya melihat tanda-tanda seseorang yang mati syahid berjuang di jalan Allah. Mereka pun minta agar informasi ini bisa disebarluaskan ke seluruh kaum Muslimin agar menjadi pelajaran!
Pekikan Allahu Akbar MembahanaGema takbir membahana seketika di saat jenazah Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono tiba di kampungnya, Solo, Kamis, 13-08-09, sekitar pukul 1.30 WIB. Para penyambut jenazah yang sebagian besar para pemuda itu menyambut jenazah kedua syahid (Insya Allah) ini dengan pekikan takbir bersahutan. Pekikan takbir ini semakin syahdu dengan latar belakang spanduk besar berwarna hitam dengan tulisan putih. Selamat Datang Pahlawan Islam. Asy Syahid Air Setiawan, Eko Joko Sarjono. (Jihad Still Continue).Di saat keranada jenazah memasuki ruangan yang sempit dan pengap, tiba-tiba bau wangi menyebar ke seluruh ruangan dan membuat heran para pelayat. Inilah tanda pertama yang dialami saksi mata tersebut.Kemudian ketika jenazah dibaringkan dan diperlihatkan, maka terlihat jelas bulir-bulir keringat menempel di tubuh keduanya. Keringat yang terlihat tersebut bagaikan keringat orang yang masih hidup dan sedang kegerahan. Subhanallah!Yang lebih mencengangkan lagi, para pelayat juga melihat adanya darah yang tetap mengalir dari telinga, hidung dan bekas luka, dan kepala jenazah keduanya, seperti layaknya seseorang yang masih hidup dan terluka. Padahal sebagaimana diketahui mereka berdua sudah berhari-hari terbunuh. Ini menjadi tanda-tanda lainnya atas kesyahidan mereka. Jenazah mereka berdua, dimakamkan berdampingan di pemakaman Muslim Kaliyoso, Sragen, Jawa Tengah, sekitar pukul 10.15 WIB hari ini. Selamat jalan syuhada! Wallahu’alam bis showab! (M.Fachry/POJ/arrahmah.com)

Baca Juga
Tanda-Tanda Syahid Muncul Pada Jenazah Air dan Eko Peyang
Abu Bakar Ba’asyir Pimpin Doa di Pemakaman Air dan Eko

Sabtu, 08 Agustus 2009

Amanda : Berawal Benci, Berakhir Cinta

Meski awalnya “membenci” Islam, gadis IOWA yang tinggal di Connecticut ini pun akhirnya ‘jatuh cinta’ pada Islam. Ia, akhirnya melafazkan syahadatSekitar awal September 2006 lalu, kelas Islamic Forum for non Muslims kedatangan seorang gadis bule bermata biru. Duduk di salah satu sudut ruang dengan mata yang tajam, hampir tidak kerkedip dan bahkan memperlihatkan pandangan yang tajam. Beberapa kali lolucen yang saya sampaikan dalam kelas itu, tidak juga menjadikannya tersenyum.
Ketika sesi tanya jawab dimulai, sang gadis itu mengangkat tangan, dan tanpa tersenyum menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang menjadikan sebagian peserta ternganga, dan bahkan sebagian menyangka kalau saya akan tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
“If Muhammad is a true prophet, then why he robbed and killed?”, tanyanya dengan suara yang lembut tapi tegas. “Why he forced the Jews to leave their homes, while they have been settled in Madinah a long time before Muhammad was born?”, lanjutnya.
Sambil tersenyum saya balik bertanya, “Where did you get this information? I mean, which book did you read”. Dia kemudian memperlihatkan beberapa buku yang dibawanya, termasuk beberapa tulisan/artikel yang diambil dari berbagai sumber di internet. Saya meminta sebagian buku dan artikel tersebut, tapi justru saya tidak menanggapi pertanyaan-pertanyaannya.
Saya balik bertanya, “Where are you from and where do you live?”. Ternyata dia adalah gadis IOWA yang sekarang ini tinggal di Connecticut.
Sambil memperkenalkan diri lebih jauh saya memperhatikan “kejujuran” dan “inteligensia” gadis tersebut. Walaupun masih belum bisa memperlihatkan wajah persahabatan, tapi nampaknya dia adalah gadis apa adanya.
Dia seorang “saintis” yang bekerja di salah satu lembaga penelitian di New York. Tapi menurutnya lagi, dan sinilah baru nampak sedikit senyum, “I am an IOWAN girl”. Ketika saya tanya apa maksudnya, dia menjawab: “a very country girl”.
Oleh karena memang situasi tidak memungkin bagi saya untuk langsung berdebat dengannya perihal pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan, saya mengusulkan agar pertanyaan-pertanyaannya dikirimkan ke saya melalui email, untuk selanjuntnya bisa berdiskusi lewat email dan juga pada pertemuan berikutnya. Kelas sore itupun bubar, tapi pertanyaan-pertanyaan gadis IOWA ini terus menggelitik benak saya.
Di malam hari, saya buka email sebelum tidur sebagaimana biasa. Gadis IOWA ini pun memenuhi permintaan saya. Ia memperkenalkan diri sebagai Amanda. Ia mengirimkan email dengan lampiran 4 halaman penuh dengan pertanyaan-pertanyaan –khususunya– mengenai Rasulullah SAW. Saya sekali lagi tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tapi mengajak untuk datang ke kelas Islamic Forum pada Sabtu berikutnya.
Ternyata, mungkin dia sadari sendiri bahwa beberapa peserta Forum pada Sabtu tadi kurang sreg dengan pertanyaan-pertanyaannya yang dianggap terlalu “polos dan tajam”. Maka dia mengusulkan kalau saya bisa menyediakan waktu khusus baginya untuk diskusi. Sayapun menerima usulan itu untuk berdiskusi dengannya setiap Kamis sore setelah jam kerja di Islamic Center.
Kita pun sepakat bertemu setiap jam 5:30 hingga 7:00 pm. Satu setengah jam menurut saya cukup untuk berdiskusi dengannnya.
Tanpa diduga, ternyata bulan Ramadhan juga telah tiba. Maka kedatangannya yang pertama untuk berdialog dengan saya terjadi pada Kamis ketiga bulan September 2006, di saat kita sedang bersiap-siap untuk berbuka puasa.
Dia datang, seperti biasa dengan berkerudung seadanya, tapi kali ini dengan sangat sopan, walau tetap dengan pandangan yang sepertinya curiga.
Kita memulai diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah dikirimkan lewat email itu. Ternyata, baru satu masalah yang didiskusikan, sesekali diselingi sedikit perdebatan yang emosional. Adzan buka puasa telah dikumandangkan. Maka dengan sopan saya minta izin Amanda untuk berbuka puasa, tapi tidak lupa menawarkan jika ingin bergabung dengan saya. Ternyata, Amanda senang untuk ikut makan sore (ikut buka) dan nampak menikmati hidangan itu.
Setelah berbuka puasa, karena harus mengisi ceramah, saya sampaikan ke Amanda bahwa diskusi kita akan dilanjutkan Kamis selanjutnya. Tapi jika masih berkenan hadir, saya mempesilahkan datang ke Forum hari Sabtu. Dia berjanji untuk datang.
Sabtu berikutnya, dia datang dengan wajah yang lebih ramah. Duduk nampak lebih tenang, tapi seolah masih berat untuk tersenyum. Padahal, diskusi saya itu terkadang penuh dengan candaan. Maklumlah, selain memang dimaksudkan untuk tidak menampilkan Islam dengan penuh “kaku” saya ingin menyampaikan ke mereka bahwa Muslim itu juga sama dengan manusia lain, bisa bercanda (yang baik), tersenyum, dan seterusnya.
Amanda nampak serius memperhatikan semua poin-poin yang saya jelaskan hari itu. Kebetulan kita membahas mengenai penciptaan Hawa dalam konteks Al-Qur’an. Intinya menjelaskan bagaimana proses penciptaan Hawa dalam prospektif sejarah, dan juga bagaimana Al-Qur’an mendudukkan Hawa dalam konteks “gender” yang ramai diperdebatkan saat ini. Keseriusan Amanda ini hampir menjadikan saya curiga bahwa dia sedang mencari-cari celah untuk menyampaikan pertanyaan yang menyerang.
Ternyata sangkaan saya itu salah. Kini Amanda sebelum menyampaikan pertanyaan justeru bertanya dulu, “Is it ok to ask this question?”. Biasanya dengan tegas saya sampaikan, “Nothing is to be hesitant to ask on any thing or any issue in Islam. You may ask any issue range from theological issues up to social ones”.
Amanda pun menanyakan beberapa pertanyaan mengenai wanita, tapi kali ini dengan sopan. Hijab, poligami, konsep “kekuasaan” (yang dia maksudkan adalah qawwamah), dll. Saya hampir tidak percaya, bagaimana Amanda paham semua itu. Dan terkadang dalam menyampaikan pertanyaan-pertanyaan itu disertai bukti-bukti yang didapatkan dari buku-buku –yang justeru– ditulis oleh para ulama terdahulu.
Saya berusaha menjawab semua itu dengan argumentasi-argumentasi “aqliyah”, karena memang saya melihat Amanda adalah seseorang yang sangat rasional. Alhamdulillah, saya tidak tahu, apakah dia memang puas atau tidak, tapi yang pasti nampak Amanda mengangguk-anggukkan kepala.
Demikian beberapa kali pertemuan. Hingga tibalah hari Idul Fitri. Amanda ketika itu saya ajak untuk mengikuti “Open House” di rumah beberapa pejabat RI di kota New York.
Karena dia masih kerja, dia hanya sempat datang ke kediaman Wakil Dubes RI untuk PBB. Di sanalah, sambil menikmati makanan Indonesia, Amanda kembali menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tajam. “If Islam respects religious freedom, why Ahmadiyah in Indonesia is banned? Why Lia Aminuddin is arrested?”.
Saya justeru terkejut dengan informasi yang Amanda sampaikan. Saya pribadi tidak banyak membaca hal ini, dan tidak terlalu mempedulikan. Maka saya jelaskan, dalam semua Negara tentu ada peraturan-peraturan yang perlu dipatuhi. Ahmadiyah dan Lia Aminuddian, jelas saya, bukan mendirikan agama baru tapi mendistorsi agama Islam. Oleh karena mereka merusak agama yang diyakini oleh masyarakat Muslim banyak, pemerintah perlu menertibkan ini. Kelihatannya penjelasan saya kurang memuaskan, tapi diskusi kekudian berubah haluan kepada makanan dan tradisi halal bihalal.
Singat cerita, beberapa Minggu kemudian Amanda mengirimkan email dengan bunyi sebagai berikut, “I think I start having my faith in Islam”. Saya hanya mengatakan, “All is in God’s hands and yours. I am here to assist you to find the truth that you are looking for”. Cuma, Amanda mengatakan bahwa perjalanannya untuk belajar Islam ini akan mengambil masa yang panjang.
“When I do some thing, I do it with a commitment. And I truly want to know Islam”. Saya hanya menjawabnya, “Take you time, Amanda”.
Alhamdulillah, setelah mempelajari Islam hampir tujuh bulan, dan setelah membaca berbagai referensi, termasuk tafsir Fii Zilalil Qur’an (Inggris version) dan Tafhimul Qur’an (English), dan beberapa buku hadits, Amanda mulai serius mempelajari Islam.
Minggu lalu, ia mengirimkan email ke saya. Isinya begini, “I have decided a very big decision..and I think you know what I mean. I am very scared now. Do you have some words of wisdoms?”.
Saya menjawab, “Amanda, you have searched it, and now you found it. Why you have to be scared?. You believe in God, and God is there to take your hands. Be confident in what you believe in”.
Tiga hari lalu, Amanda mengirimkan kembali emailnya dan mengatakan bahwa dia berniat untuk secara formal mengucapkan “syahahat” pada hari Senin mendatang (tanggal 5 Maret 2007 kemarin). Saya bertanya, kenapa bukan hari Sabtu atau Ahad agar banyak teman-teman yang bisa mengikuti? Dia menjawab bahwa beberapa teman dekatnya hanya punya waktu hari Senin.
Alhamdulillah, disaksikan sekitar 10 teman-teman dekat Amanda (termasuk non Muslim), persis setelah adzan Magrib saya tuntun ia melafazkan “Asy-hadu an laa ilaaha illa Allah-wa asyhadu anna Muhammadan Rasul Allah”, diiringi pekik takbir dan tetesan airmata beberapa temannya yang ikut hadir. Amandapun melakukan shalat pertama sebagai Muslim sore itu diikuti dengan doa bersama semoga Allah menguatkan jalannya menuju ridho Ilahi. oleh M. Syamsi Ali.
Amanda, selamat dan semoga Allah SWT selalu menjagamu dan menjadikanmu “pejuang” kebenaran! [www.hidayatullah.com] New York, 6 Maret 2007
*) Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik “Kabar Dari New York” di www.hidayatullah.com

Naoko Kasai : Mengenal Islam Lewat Pergaulan

Saya lahir di Jepang pada tanggal 25 Maret 1970. Orang tua saya memberi saya nama Naoko Kasai. Sebagaimana orang tua, mereka mendidik saya dengan baik. Tugas saya hanya belajar dan belajar, setelah itu bekerja. Karena demikian tegasnya sikap orang tua, saya akhimya dapat mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Meiji. Setelah lulus saya bekerja sebagai wartawan pada sebuah penerbitan khusus bidang pertanian.
Dari pekerjaan sebagai wartawan itulah, saya mulai banyak bergaul dengan beragam karakter manusia dari berbagai bangsa, mulai mahasiswa yang sedang belajar sampai para pekerja asing yang bekerja di kota-kota Jepang.
Suatu ketika saya datang ke Universitas Tokyo. Di sana saya bertemu danberkenalan dengan seorang mahasiswa yang berasal dari Turki. Awal perkenalan itu hanyalah berbincang-bincang soal biasa. Karena hampir setiap minggu kami bertentu, pembicaraan pun kian melebar ke hal-hal yang serius, seperti masalah agama.
Mahasiswa Turki tersebut adalah seorang muslim. Sedangkan, saya anak seorang penganut Shinto (sebuah sekte agama Budha yang berkembang di Jepang). Karena saya seorang wartawan maka rasa keingintahuan saya pada Islam begitu kuat. Di dalam negeri saya sendiri, Islam tidak begitu dikenal. Yang ada hanya Shinto sebagai kepercayaan dan Kristen sebagai agama. Itu pun tidak begitu taat dianut masyarakat.
Saya ingin mahasiswa Turki itu bercerita banyak mengenai Islam yang sesungguhnya. Sebab, saya dan kaum muda Jepang lainnya, sangat menggandrungi kebudayaan Amerika. Dari kebudayaan Amerika yang merasuk pada berbagai sektor kehidupan, tersebar informasi yang mengatakan bahwa agama Islam adalah agama kaum teroris dan masyarakat yang terbelakang.
Mahasiswa Turki itu bercerita tentang Tuhan, yang oleh umat Islam disebut Allah, dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya, serta pokok-pokok ajaran Islam lainnya. “Apakah benar Tuhan itu ada?” tanya saya menggebu-gebu. Mahasiswa Turki itu menjawab, “Tuhan itu ada.” la sangat meyakininya. Sebagai seorang muslim, ia pun melaksanakan ibadah shalat di mana pun ia berada. la pun meluruskan pandangan saya yang negatif tentang Islam akibat propaganda orang-orang Barat.
Tertarik Kepada Islam
Dari cerita mahasiswa Turki itu, saya makin tertarik. Terus terang, masyarakat Jepang jarang bercerita tentang agama. Dan informasi mengenai agama lain pun kurang terdengar, apalagi Islam. Justru yang selalu mereka dengungkan adalah belajar, belajar, dan bekerja. Agama bukanlah hat yang pokok. Shinto hanya sebuah kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Jepang yang dijadikan kepercayaan negara. Oleh sebagian kaum tua Jepang, kepercayaan Shinto masih tetap hidup. Misalnya, ketika panen melimpah, mereka melakukan upacara untuk mengucapkan terima kasih pada Dewa Inori (dewa pertanian). Tapi kini, kepercayaan Shinto sudah dianggap keno dan tergusur oleh kemajuan zaman.
Islam yang diceritakan oleh teman Turki saya itu, telah menimbuikan rasa simpati dalam diri saya. Saya kagum dan terkejut. Katanya, Islam sudah mendunia (dianut oleh masyarakat dunia) dan Islam berbicara melintasi alam dunia (akhirat). Dari sinilah saya tak bisa tidur, Saya gelisah.
Akhimya saya putuskan belajar untuk mengetahui tentang Islam lebih lanjut. Lalu, saya mendatangi Islamic Center of Japan. Di sana Saya membaca buku terjemahan dari bahasa Arab mengenai hal-hal yang mendasar dalam Islam, seperti shalat, puasa, dan sebagainya. Oleh pengurus Islamic Center, saya diberi buku-buku secara gratis.
Tapi, itu pun kurang memuaskan rasa ingin tahu saga tentang Islam. Saya pun mulai bergaul dengan para pekerja asal Indonesia, yang rata-rata beragama Islam. Pergaulan saya dengan para pekerja Indonesia inilah yang membuat saya mulai tertarik datang ke Indonesia. Saya ingin tahu masyarakat Islam di Indonesia. Tapi, saya masih perlu belajar lebih jauh tentang Islam.
Tidak terasa, sudah tiga tahun saya mengenal Islam. Hati kecil saya menvatakan agar saya memeluk agama Islam. Namun timbul keraguan, karena pengetahuan saya tentang Islam masih kurang.
Masuk Islam
Alhamdulillah, taufik dan hidayah Allah itu akhirnya datang juga kepada saya. Pada bulan Mei 1997, di sebuah masjid di daerah Jakarta Timur, saya mengikrarkan diri menjadi seorang muslimah. Saya mengucapkan dua kalimat syahadat. Saya pun mengganti nama menjadi Naoko Nani Kartika Sari.
Perihal keislaman saya, sengaja tidak saya beritahukan kepada prang tua. Karena sava khawatir, informasi mengenaiIslam yang negatif masih mempengaruhi ibu saya. Tapi akhirnva beliau saya beritahu juga. Syukurlah, sikap ibu tidak seperti yang saya duga. Ibu tidak terpengaruh pada informasi itu. la juga tidak marah. Ia menanggapinya biasa-biasa saja.
Setelah menjadi seorang muslimah, saga mulai belajar shalat dan ibadah lainnya. Pertama kali shalat, sava merasakan kedamaian dan ketenangan. Islam membuat jiwa saya tenang dan damai. Apalagi kini saya berada di negara yang mayoritas beragama Islam.
Saya menikah dengan warga negara Indonesia dan kini tinggal di Indonesia. Dari pernikahan ini, saya mengakui tidak dapatbelajar banyak mengenai Islam dari suami sava. Untuk mendalami ajaran Islam dengan segala aspeknya, sava belajar dari ibu angkat sava, Ibu Maini namanya.
Dari beliaulah saya merasakan ketenangan beragama. Beliau sangat sabar membimbing saya. Saya dibimbingnya berpuasa pada bulan Ramadhan, shalat tarawih, dan shalat Idul Fitri, dan ibadah-ibadah lainnya. Misalnya, pada Idul Adha kemarin, saya dibimbing untuk berkurban dengan satu ekor kambing.
Inilah kegiatan keagamaan yang terasa dalam hati sanubari sava. Saya bersyukur, walau jauh dari tanah kelahiran, namun pengamalan nilai-nilai ibadah mendapat bimbingan dari saudara-saudara seiman. Lewat pergaulan antarumat manusialah yang membuat mata batin sava terbuka dan menemukan Islam sebagai agama.
Oleh Maulana M./Albaz dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL) http://www.mualaf.com

Wahyu Soeparno Putro : Hidayah Adzan Subuh

Awalnya, suara adzan Subuh adalah “musuh” bebuyutan Wahyu Soeparno Putro. Ia merasa, suara itu sangat terganggu tidurnya. Namun siapa nyana, suara adzan Subuh itu pula yang justru membawanya menemukan jalan menjadi seorang mualaf — seorang pemeluk Islam.
Sepenggal kesaksian spiritual itu seperti tak pernah bisa dilupakan pada ingatan lelaki kelahiran Skotlandia, 28 Juli 1963. Termasuk ketika berbincang santai kepada Republika yang menemuinya di sela-sela kesibukannya melakoni syuting sebuah program televisi di Jakarta, Senin (4/6) lalu.
Kenangan itu ibaratnya telah menjelma menjadi semacam sebuah napak tilas spiritual tertinggi bagi pemilik nama lahir Dale Andrew Collins-Smith. Ia antusias — walau kadang dengan berkaca-kaca — menceritakan kisah yang dilaluinya sekitar 12 tahun silam. Tepatnya, sekitar pada 1999 atau lima tahun setelah pengelanaannya ke Yogyakarta. Dale saat itu datang ke Yogyakarta dari Australia untuk mencari nafkah dari perusahaan kerajinan yang memekerjakan sedikitnya 700 karyawan.
Di Kota Gudeg itu, dia tinggal mengontrak bersama teman. Namun seiring waktu berjalan, dia kemudian bertemu dengan Soeparno. Soeparno ini adalah ayah beranak lima yang bekerja sebagai seorang satpam. Singkat cerita Dale ini kemudian diajak menetap bersama di rumah Soeparno sekaligus juga diangkat sebagai anak dari keluarga besar Soeparno.
Rumah Soeparno ini letaknya hanya sepelemparan batu saja ke arah masjid. Karena tak jauh dari masjid, tak mengherankan kalau setiap pagi suara adzan Subuh itu seperti meraung-raung di dekat daun telinganya. Rutinitas itu akhirnya membuat Dale selalu terbangun di pagi hari.
Bahkan setelah menetap cukup lama di rumah Soeparno itu, dia selalu terbangun 5-10 menit lebih awal dari adzan Subuh. ”Ini yang membuat saya heran,” katanya. ”Padahal sejak kecil saya tak pernah bisa bangun pagi, tapi di sana (Yogyakarta) saya mampu merubah pola hidup saya untuk bangun pagi.”
Di tengah proses menemukan ‘hidayah’, Dale yang telah menjadi yatim-piatu sejak usia 20 tahun itu kemudian mulai banyak bertanya-tanya tentang Islam. Hal-hal sederhana tentang Islam seperti sholat sampai puasa menjadi pertanyaan yang mengusik batinnya. Terkadang ia pun tak sungkan untuk bertanya kepada rekan-rekannya yang menganut Islam.
Pergaulan yang kian terjalin akrab dengan lingkungan Yogya itu ternyata melahirkan pula sebuah sikap toleransi beragama pada diri Dale. Ketika Ramadhan tiba dan rekan-rekannya berpuasa, dia seakan terpanggil untuk ‘ikut-ikutan’ berpuasa. ”Awalnya saya cuma ingin mengetahui saja seperti apa sih rasanya puasa,” kata dia. ”Tetapi setelah tahun ke dua atau ketiga di sana, puasa saya ternyata sudah full hingga puasa tahun kemarin,” sambungnya dengan penuh bangga.
Eksperimentasi dalam menjalani ibadah puasa maupun rutinitas bangun pagi menjelang adzan Subuh itu kemudian memberikan pula semacam perasaan tenang yang menjalar di dalam diri Dale. ”Saat itu saya merasa seperti sudah sangat dekat saja dengan orang-orang di sekitar saya,” katanya sambil mengaku pada fase tersebut dia sudah semakin fasih berbicara Indonesia.
Tak merasa cukup terjawab tentang Islam pada rekan sepergaulan, Dale kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada ketua pengurus masjid dekat tempatnya tinggal. Tapi sekali lagi, hasratnya untuk mengetahui Islam masih belum terpuaskan. Maka pada suatu ketika, bertemulah dia dengan seorang ustad bernama Sigit. Ustad ini masih berada satu kampung dengan tempat tinggalnya di kediaman Soeparno.
”Waktu saya ceritakan tentang pengalaman saya, dia malah berkata kepada saya,”Sepertinya malaikat mulai dekat dengan kamu’,” kata Dale menirukan ucapan Pak Sigit.
Mendengar ucapan itu, Dale merasakan seperti ada yang meledak-ledak di dalam dirinya. ”Semuanya seperti jatuh ke tempatnya,” kata dia menggambarkan situasi emosional dirinya ketika itu. ”Saat itu saya juga sudah bisa menangkap secara akal sehat tentang Islam,” ujarnya lagi. Ledakan yang ada di dalam diri itu kemudian membawa Dale terus menjalin hubungan dengan Pak Sigit. Dari sosok ustad itu, dia mengaku mendapatkan sebuah buku tentang Islam dan muallaf. Dan pada saat itu pula, niatnya untuk mempelajari sholat kian menggelora.
Di saat hasrat di dalam diri semakin ‘merasa’ Islam, Dale kemudian bertanya pada Soeparno. ”Saya merasa lucu karena sudah seperti merasa Muslim,” kata dia kepada Soeparno. ”Tetapi bagaimana caranya,” sambung dia kembali. Mendengar ucapan pria bule, Soeparno sangat terkejut. Lantas lelaki ini menyarankan agar Dale masuk Islam saja melalui bantuan Pak Sigit.
Lantas tidak membutuhkan waktu lama lagi, sekitar medio 1999, Dale Andrew Collins-Smith kemudian berpindah agama sekaligus berganti nama menjadi Wahyu Soeparno Putro. Dan, prosesi ‘hijrah’ itu dilakukannya di masjid yang mengumandangkan adzan Subuh dekat rumahnya. Yang dulu dianggap “mengganggu” tidurnya….
Dale Andrew Collins-SmithNama sekarang: Wahyu Soeparno PutroLahir : Skotlandia, 28 Juli 1963Pendidikan:Centre for the Performing Arts (Adelaide Australia)Victorian College of the Arts (Melbourne Australia)Profesi : Pemain Sinetron dan Presenter .( akb/riol )
Wahyu Bule Berharap Bisa Menjadi WNI : DI balik suksesnya sinetron “Toyib Minta Kawin”, ada sosok yang tak bisa dilepaskan begitu saja. Dia adalah Wahyu Suparno Putro, warga Australia yang punya nama asli Andrew Smith. Hebatnya, pria yang akrab dipanggil Wahyu Bule oleh kru sinetron ini tampil dengan peran berbeda di setiap episode. Mulai dari pelukis, hansip serta bencong yang berkebaya. “Jiwa saya sudah di sini, saya tidak ada niat balik ke Australia, mudah-mudahan saya bisa menjadi warga negara Indonesia,” harapnya.
Bercerita kepada Bibir Plus, Wahyu mengatakan bahwa dia banting stir ke dunia hiburan karena sedang tak punya pekerjaan setelah diberhentikan dari kantornya di Jakarta. Dia sempat beberapa lama tinggal di Yogyakarta sampai punya orang tua angkat yang kemudian megganti namanya setelah masuk Islam. “Awalnya nama saya mau diganti dengan Muhammad, tapi saya menolak karena sebagian besar bule yang masuk Islam bernama Muhammad,” ujarnya. (Ad-240906/SCTV)

Iga Mawarni : Memeluk Islam Karena Berdebat

Islam lebih Realistis
MALAM mulai turun di sebuah kamar kost di bilangan Depok, Jawa Barat, tahun 1993. Seorang perempuan cantik, hatinya bergejolak. Malam itu, seorang mahasiswi Sastra Belanda Universitas Indonesia (UI), baru saja berdiskusi antarteman, masing-masing mempertahankan pendapatnya. Sharing pendapat ini bukan hal baru dilakukan, tetapi sudah sering berlangsung.
Hingga akhirnya, perdebatan itu menyisakan kepenasaran dan melahirkan sebuah pemikiran logis. Di suatu malam itulah, wanita bersuara merdu itu harus mengambil sebuah keputusan penting dalam hidupnya. Perempuan yang dimaksud adalah artis penyanyi terkenal, Iga Mawarni, putri kelahiran Bogor, tetapi berdarah Solo. Lagu ‘e2′80′9dKasmaran’e2′80′9d sempat melambungkan nama Iga Mawarni di tahun 1991. Tanpa dipengaruhi orang ketiga, penyanyi bersuara jezzi ini, akhirnya memutuskan meninggalkan kepercayaan lamanya dan memeluk Islam dengan pendekatan rasional. Ia melakukannnya dengan sepenuh hati, tanpa emosi sedikit pun.
‘e2′80′9dTidak ada pengalaman khusus yang saya temui untuk pindah keyakinan ini, misalnya mendengarkan azan sayup-sayup lalu hati saya bergetar. Bukan peristiwa itu. Keyakinan mengkristal justru berangkat dari lingkungan di mana saya tinggal. Sebagai anak kost kami sering berdebat, ketika kami masih kuliah di UI,’e2′80′9d cerita Iga Mawarni mengenang masa lalunya, ketika dihubungi ‘e2′80′9dPR’e2′80′9d, Rabu (13/10), ia tengah berlibur di Yogyakarta bersama anaknya Rajasa (3.5).
Setelah berikrar memeluk Islam, persoalan pun muncul, terutama dari keluarganya. ‘e2′80′9dTadinya saya tidak ingin mengatakannya terus terang, tetapi semakin saya tutupi, justru perasaan bersalah saya muncul,’e2′80′9d desahnya.
Keputusan untuk berterus terang kepada kedua orang tuanya itu, bukan tanpa risiko. ‘e2′80′9dSemua orang tua pasti tidak rela anaknya berkhianat terhadap agamanya. Saya memakluminya ketika ayah dan ibu saya menjauhi saya. Saya harus kuat, Allah sedang menguji kekuatan saya saat itu. Dan saya berhasil menerima ujian itu,’e2′80′9d kata Iga sedikit tersendat.
‘e2′80′9dYang membuat saya terharu, ketika pikiran saya mengingat mereka sebagai orang tua yang telah melahirkan saya. Begitu kuat rasa hormat itu muncul, tetapi di sisi lain saya seperti memperoleh kekuatan yang maha dahsyat untuk tetap bersikukuh, berdiri berseberangan dalam menegakkan keyakinan. Tadinya ada keinginan, semoga apa yang telah saya lakukan ini ditiru lingkungan keluarga besarku di Solo, tetapi tentu itu tidak mudah, tetapi Alhamdulillah adik kandung saya, sejak dua tahun silam telah mengikuti jejak saya menjadi pengikut Muhammad saw.,’e2′80′9d kisah pengagum tokoh B.J. Habibie ini bahagia.
Dianggap tersesat
Konsekuensi memeluk Islam secara sadar, adalah perlakuan dari keluarga di Solo yang tidak lagi ramah. Hubungan komunikasi pun nyaris putus, bahkan suplai dana untuk biaya hidup di Jakarta dihentikan. ‘e2′80′9dPadahal saya butuh biaya untuk kuliah, skripsi, biaya hidup. Tetapi Tuhan selalu memberi jalan pada umatnya. Saat itu saya terus berdoa, semoga diberi kekuatan. Maka timbul ide untuk bekerja secara part time di Jakarta. Tawaran nyanyi juga mengalir meski tidak gencar. Dari sana saya semakin meyakini kebenaran itu selalu ada,’e2′80′9d tegas Iga.
Tujuh tahun, ia harus saling menjaga jarak dengan keluarga. Jika tidak dihadapi dengan kepala dingin, mungkin segalanya bisa porak poranda. Iga berhasil meredam semuanya dengan tanpa gembar-gembor. ‘e2′80′9dTujuh tahun saya lewati hari-hari saling menjaga perasaan, tidak pernah ada rasa gentar, atau takut. Saya pernah dianggap sebagai anak tersesat oleh keluargaku di Solo. Saya tetap menikmatinya sambil terus mempelajari kedalaman keyakinan saya lewat Alquran, buku-buku penunjang lainnya, sehingga saya mengetahui mana yang menjadi larangan dan mana yang dibolehkan,’e2′80′9d terang Iga.
Dalam pencarian memahami Islam itulah pada akhirnya ia dipertemuakan dengan seorang laki-laki yang kemudian menjadi suaminya sekarang, Charlie R. Arifin (pengusaha) yang satu ihwan. ‘e2′80′9dSaya bersyukur Tuhan mengutus laki-laki pendamping yang setia, saleh dan punya masa depan. Saat itu semakin teguh keyakinan saya memeluk Islam secara tulus ihlas.’e2′80′9d
Iga tak lagi sendiri mendirikan salat, atau berpuasa. Ia sudah menemukan imam dalam rumah tangganya. Bersama Charlie dan Rajasa, buah kasih mereka, terkadang melakukan salat berjamaah di rumah. Bila bulan Ramadan tiba, mereka melaksanakan salat tarawih di masjid raya. Dipilihnya Masjid At-Tien TMII Jakarta Timur, sebagai tempat salat terdekat dari rumah tinggalnya, di kawasan Jakarta Timur.
‘e2′80′9dSaat puasa tiba, sebenarnya bukan hal asing bagi saya. Karena ketika masih menganut Nasrani, ada juga instruksi mendirikan puasa. Saya juga suka melakukan puasa, hanya caranya yang berbeda,’e2′80′9d papar Iga yang mengaku semoga tahun ini ia bisa melaksanakan puasa dengan tanpa kekalahan yang berarti dan mendapat ampunan dosa-dosa dari Allah SWT. (Ratna Djuwita/’e2′80′9dPR’e2′80′9d)***

Monica Oemardi : Islam Agama yang Suci

BULAN suci Ramadhan merupakan bulan yang penuh hikmah buat saya. Saat itu, saya memulai hidup baru sebagai seorang muslimah. Ini adalah hidayah Allah pada saya dan saya sangat mensyukurinya. Sekarang, saya semakin mantap dengan pilihan hati nurani saya itu. Saya siap lahir batin. Termasuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Saya ingin segera bisa menunaikan ibadah umrah. Insya Allah.
Nama saya Monica Oemardi, lahir di Jakarta, 24 tahun lalu. Papa saya berasal dari Blitar dan beragama Islam. Sedangkan mama berasal dari Cekoslowakia dan beragama Kristen Protestan. Mungkin, sebagian pembaca tak asing lagi dengan debut saya selama ini di dunia sinetron. Di antara sinetron yang telah saya bintangi adalah Delima, Takhta, Intrik, Warteg, Misteri Gunung Merapi, Angling Darma, dan lain sebagainya
Saya berasal dari keluarga Kristen Protestan yang cukup taat. Meskipun demikian, keluarga kami sangat demokratis dalam masalah agama. Setelah menikah, saya pindah agama ke Kristen Katolik, mengikuti suami saya yang pertama. Sebenarnya, agama Islam tak asing lagi bagi saya. Sebab, kebanyakan keluarga papa beragama Islam. Pada waktu kecil, pernah saya ikut-ikutan shalat Id pada Hari Raya Idul Fitri di Bandung. Walaupun hanya sekadar gerakan shalat saja, tapi kegiatan ritual itu sangatberkesan di dalam hati saya. Setelah shalat Id, saya jugs mengikuti nyekar (ziarah) ke makam leluhur papa dan mengikuti tahlilan.
Mulai Tertarik
Memang, saya sudah lama ingin masuk Islam, tepatnya sekitar bulan Februari-Maret 1998 lalu. Ketika itu, sahabat saya sesama artis, Vinny Alvionita dan Dian Nitami, mengunjungi saya di rumah kos. Ketika kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba terdengar suara azan magrib dari masjid sekitar rumah kos.

Sahabat saya, Dian Nitami yang muslimah itu, langsung ingin shalat. Tapi, terlebih dulu ia meminta izin kepada saya. Saya dan Vinny beringsut dari tempat duduk untuk menggelar sajadah, karena tempat kos memang sempit. Di dalam kamar kos yang kecil itu, saya perhatikan Dian ketika usai mengambil air wudhu, ia mengeluarkan mukenah putih, kemudian memakainya. Hal itu membuat saya terkesima dan berpikir, Islam itu amat suci, mau menghadap Allah harus menyucikan diri terlebih dulu. Saya amati terus saat Dian melakukan shalat. Hingga tiba-tiba dari mulut Saya terlontar permintaan kepada sahabat saya, Vinny, untuk mengajarkan saya tata cara shalat.
Tentu saja Vinny terkejut mendengar permintaan saya itu. Saya pun tak mengerti apa yang mendorong saya hingga melontarkan ucapan demikian. Dengan wajah tak percaya, Vinny memandangi saya. Saya disuruhnya mengulangi lagi permintaan saya tadi itu.
Mungkin Vinny tak percaya, karena selama ini saga tak pernah minta diajari shalat kepada teman-teman yang sering datang ke tempat kos saya. Tetapi, tiba giliran Dian yang shalat, saya malah minta diajari. irni mungkin hidayah bagi saya melalui kedua sahabat saya itu.

Sejak itu, Vinny memberi saya beberapa buku bacaan. Salah satunya berjudul, “Lentera Hati” yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Quraish Shihab, MA. Setelah membaca buku tersebut, saya semakin terpukau dan mengagumi Islam. Saya pun semakin mendalami Islam lewat buku-buku yang diberikan Vinny, di samping bertanya kepada mamanya Dian Nitami dan keluarga Vinny.

Walaupun saya terus mempelajari Islam melalui bukubuku yang diberikan oleh Vinny, saya masih sering ke gereja. Bahkan, yang mengantarkannya adalah Vinny sendiri: Memang, dalam bersahabat kami saling menghargai, terutama coal agama. la pernah berpesan kepada saya bahwa tak ada paksaan dalam Islam. Kalau ingin masuk Islam, harus dengan pikiran dan hati yang bersih dan sesuai dengan hati nurani.
Hari demi hari, saya terus mempelajari Islam secara mendalam, hingga setelah tak ada keraguan sedikit pun di hati, pada bulan puasa, Januari 1998, hati saya semakin bergetar. Saya menunggu-nunggu kapan waktu yang tepat untuk memeluk Islam.
Gelora hati untuk memeluk Islam mengalahkan segala kesibukan dan persiapan untuk menyambut Hari Natal. Dulu, saya paling suka mempersiapkannya. Bahkan, sebulan sebelumnya saya sudah sibuk merapikan runah, mencari kado buat mama dan keluarga, dan selalu siap membantu mama mempersiapkan kue-kue Natal. Tetapi, pada saat itu, saga tak melakukan semua itu. Walaupun saya belum nmemeluk Islam, tapi saya sudah menjalani ibadah puasa.
Masuk Islam
Pada malam menjelang Tahun Baru, 31 Desember 1998 lalu, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dibimbing oleh Prof.Dr. H. Quraish Shihab di kediaman seorang pengusaha elektronik, Rachmat Gobel, di kawasan Jalan Saharjo, Jakarta Selatan, dalam acara buka puasa bersama.
Setelah membaca rukun Islam yang pertama itu, saya tak dapat menahan rasa haru, sehingga saya tak mampu lagi membendung air mata. Rasanya dada ini plong sekali, seperti bayi yang baru lahir. Jadi, tahun 1999 itu, buat saya, merupakan tahun untuk memulai “hidup baru” sebagai seorang muslimah.
Walaupun sudah resmi masuk Islam, tapi Pak Quraish Shihab dalam kesempatan itu, juga berpesan agar saya segera meresmikan status keislaman saya itu. Katanya, mengucapkan dua kalimat syahadat berkali-kali, tak apa-apa. Maka, pada hati Jumat tanggal 8 Desember 1999, dengan dilengkapi prosedur administratif, saya mengucapkan ikrar dua kaliniat syahadat di hadapan para saksi di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat.
Mengetahui saya masuk Islam, mama sempat marah. Bukan apa-apa, tapi karena beliau ingin supaya saya dalam hidup ini mempunyai prinsip. Setelah saya jelaskan, beliau pun akhimya menerima keputusan saya itu. Beliau berpesan supaya saya benar-benar menjaga keislaman saya. Tidak simpang siur dan tidak boleh main-main.
Setelah masuk Islam, kehidupan saya terasa lebih tenang. Apalagi setelah perceraian dengan suami pertama yang membawa kabur anak saya, Antonius Joshua (6 tahun). Selama bulan suci Ramadhan tersebut, saya terus menjalankan ibadah puasa. Dan ternyata, puasa dengan dilandasi niat, berbeda sekali dengan puasa tanpa niat. Saya rasakan puasa tanpa niat itu terasa sangat berat. Jangankan menjalaninya, untuk bangun sahur saja berat sekali. Tapi, setelah masuk Islam, saya selalu membaca niat puasa setiap sahur, puasa pun menjadi terasa ringan.
Selama ini saya sahur sendiri. Anehnya, saya bisa dengan mudah terbangun, tanpa ada perasaan yang berat. Dan setelah sahur, saya tidak langsung tidur. Saya hidupkan teve dan mengikuti kuliah subuh. Dari siaran tersebut, saya banyak memperoleh masukan-masukan yang bermanfaat. Saya bertekad untuk menjadi muslimah yang baik, tentunya dengan diiringi doa para pembaca. Insya Allah. (Ages Salami Albaz)

Sri Lestari Masagung : Kembali ke Pangkuan Islam

Sri Lestari, 42, yang akan Anda simak kisahnya berikut ini, termasuk salah seorang yang telah berhasil diubah oleh sebuah sistem pendidikan non-Islam. Sehingga ia yang dilahirkan dari sebuah keluarga muslim, telah tersesat selama hampir 30 tahun, karena sejak SD sampai SMA bersekolah di lembaga pendidikan non-Islam.
Untuk saudaraku kaum muslimin berhati-hatilah dalam mendidik dan menyekolahkan anak-anak kita, menyekolahkan anak-anak kita di Sekolah Islam jauh lebih baik untuk dunia dan akhirat !
Sebagai seorang wiraswastawan yang cukup sukses, Ir. Wijanarko –Ayah Sri Lestari–menghendaki agar putri tertuanya dapat mengecap pendidikan di sekolah yang cukup bergengsi. Pada waktu itu, sekitar tahun 50-an, di kota Yogyakarta belum ada sekolah negeri atau Islam yang cukup bergengsi. Yang ada baru sekolah milik Katolik Santa Steladus. Singkatnya, Sri Lestari dan adik laki-lakinya yang cuma semata wayang itu, dimasukkan oleh orang tuanya ke sekolah tersebut. Sri Lestari merasa kerasan (betah) bersekolah di situ. Apalagi ia termasuk murid yang cerdas, sehingga sentua guru dan kawan kawannya sayang kepadanya.
Suasana yang harmonis dan iklim belajar yang baik, menyebabkan sava tidak ingin bersekolah di tempat lain. Karena itu, ketika saya lulus SD, saya tidak ingin melanjutkan ke SMP lain. Sava memilih sekolah di Santa Steladus. Kebetulan St. Steladus memiliki Taman Kanak-kanak (TK) sampai SMA.
Begitu pun ketika saya lulus SMP, saya tetap melanjutkan pendidikan di SMA sekolah tersebut. Karena lebih banyak bergaul dalam lingkungan Katolik,saya menjadi lebih akrab dengan tradisi Katolik dibandingkan tradisi agama saya sendiri (Islam).
Meskipun begitu, pada setiap waktu magrib, eyang putri (nenek) saya selalu menyuruh mengaji Al-Quran. Karena saya amat sayang kepada nenek, saya turuti saja apa yang diperintah nenek. Tidak heran–meskipun saya belajar di sekolah Katolik–saya dapat baca-tulis huruf Arab dan membaca Al-Quran.
Ada satu hal yang membuat saya begitu terkesan dengan Katolik, yakni ajaran kasih. Saya yang banyak bergaul di lingkungan Katolik menyaksikan, betapa semangat pengabdian dan kepedulian mereka kepada nasib sesama manusia, terutama yang sedang mendapat kemalangan, begitu tinggi.
Mereka dengan senang hati akan menolong siapa saja yang perlu ditolong. Hal-hal seperti inilah yang tidak saya jumpai di lingkungan masyarakat saya yang notabene adalah kaum muslimin. Meskipun kedua orang tua sava, termasuk sanak-famili saya telah berkali-kali mengingatkan agar saya menjaga jarak dengan segala bentuk kegiatan di gereja Katolik, toh itu tidak cukup ampuh untuk menghalangi saya ikut kebaktian.
Berbeda dengan adik sava yang laki-laki. Meskipun is juga bersekolah di St. Steladus, tetapi is tetap tegar dengan pendiriannya sebagai seorang muslim. Sedangkan saya, bahkan bercita-cita menjadi biarawati. Karena itu, ketika lulus SMP, saga Iangsung mendaftarkan diri di sekolah susteran St. Steladus, yaitu pendidikan khusus bagi calon-calon biarawati, yang seluruh muridnya wanita.
Di sekolah susteran inilah, iman kristiani saya bertambah mantap. Dan, saya sudah memutuskan untuk menjadi seorang biarawati. Tamat sekolah susteran, saya melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Ketika sava duduk di semester V, ayah saya meninggal dunia.
Musibah ini memaksa saya hares mengikhlaskan untuk meninggalkan bangku kuliah. Saya ingin agar adik saya yang laki-laki selesai kuliah. Dan, itu sudah pasti butuh banyak biaya. Sebab itu, saya mengalah. Akhimya, saya memutuskan hijrah ke Jakarta.
Beruntung saya segera mendapat pekerjaan di Rumah Sakit Sint Carolus, Salemba Raya, Jakarta. Karena latar pendidikan saya, saya dipercaya menjadi asisten dokter. Di rumah sakit milik Kristen inilah, saya banyak mencurahkan pengabdian untuk membantu mereka yang butuh pertolongan. Tekad saya sudah bulat dan mantap untuk menjadi seorang biarawati yang mengabdi untuk kemanusiaan.
Kembali ke Pangkuan Islam
Pada suatu hari di bulan Oktober 1983, saya diajak seorang kawan saya, seorang wanita muslimah, sekadar jalan-jalan mencari angin. Kami singgah di Toko Buku Wali Songo dan melihat buku-buku Islam. Ketika itu, seseorang yang tidak saya kenal menegur kami, “Dokter, ya?” ujar orang tersebut menebak. Saya pun menjelaskan bahwa saya hanva seorang pembantu dokter di RS St. Carolus. Orang tersebut yangmalah menawarkan pekerjaan kepada saya.
Singkat cerita, tawaran itu pun saya terima. Maka, mulai 28 Oktober 1983, saya resmi bekerja di TB Wali Songo dan di tugaskan sebagai sekretaris. Kepindahan saya bekerja di tempat ini, kelak akan membawa hikmah yang amat besar buat diri dan masa depan saya.
Suasana TB Wali Songo yang kental dengan misi Islam, membuat saya terkenang kembali ke masa-masa kecil di Yogyakarta. apalagi di belakang toko buku itu (masih satu bagian dengan toko buku) ada Masjid Al-A’raaf yang selalu ramai dikunjungi masyarakat. Terutama pada waktu shalat dan pengajian. Dan satu hal lagi, 15 menit menjelang masuk waktu shalat (biasanya zuhur, ashar, magrib, dan isya) di kumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan suara lembut syahdu yang dipancarkan secara sentral ke seluruh ruangan.
Saya kerap menyaksikan kaum mushmin yang shalat berjamaah. Saya pun teringat kepada orang-orang yang saya cintainya–ayah, ibu, dan eyang-yang semuanya sudah dipanggil Yang Kuasa (meninggal dunia). Mereka tidak jemu jemunya mengingatkan saya agar saya kembali masuk Islam.
Bahkan, almarhumah ibu saya ketika menjelang saat-saat terakhir hidupnya, berpesan wanti-wanti. “Kowe kudu ball iho, nduk. Menowo ora, sesuk orang ketemu 1ho karo ibu ono-ono”. Maksudnya kamu harus kembali (ke Islam). Kalau tidak, nanti di sana (akhirat) tidak akan ketemu dengan ibu.
Hati saya amat terenyuh jika mengingat semua itu. Saya amat terharu dengan sikap ibu yang saya rasakan sebagai ke prihatinnan seorang ibu kepada anaknya yang tersesat. Saya dapat merasakan betapa almarhumah ibu seperti membawa beban berat menghadap Tuhannya.
Perasaan-perasaan seperti itulah yang semakin mengusik ketenangan saya. Jiwa saya semakin gelisah. Sebagai gadis Jawa, saya dididik untuk patuh kepada orang tua. Sampai saat itu, saya merasa belum dapat membalas budi baik orang tua. Ammarhumah ibu memang tidak memaksa agar saya kembali ke Islam, tetapi almarhumah hanya berharap agar saya punya pengertian untuk itu.
Apalagi, adik saya yang laki-laki secara halus mencoba mengajak saya kembali ke pangkuan Islam. Hampir satu bulan, sejak saya bekerja di TB Wali Songo, akhirnya setelah melalui pertimbangan dan perenungan yang cukup matang, saya pun memutuskan untuk kembali ke pangkuan Islam.
Maka, tepat pada hari ulang tahun saya yang ke-34, 27 November 1983, di hadapan beberapa saksi di Masjid Al-A’raaf Kwitang, Jakarta, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Saya bukan masuk Islam, tapi saya kembali ke pangkuan Islam. Ya, saya memang ibarat kembalinya si anak hilang ke pangkuan bundanya. Allahu Akbar Walillah ilhamd.
Tidak lama sesudah itu, datang hikmah berikutnya. Haji Masagung mempersunting saya untuk mendampingi hidup nya di dunia dan akhirat. Cita-cita saya semula yang ingin menjadi biarawati, setelah menjadi muslimah tentu saja harus ditinjau kembali. Sebab, Islam. tidak menganjurkan untuk hidup membujang (lajang). Islam bahkan -menganjurkan umatnya untuk menikah.
Demikianlah, akhimya dengan penuh keikhlasan, lamaran (pinangan) tersebut saya terima. Setelah menjadi istri Masagung, kesempatan untuk mendalami Islam semakin terbuka lebar. Apalagi toko buku suami saya banyak menyedia kan buku buku Islam. Alhamdulillah, kini, saya sudah menjadi Hajjah, dan Haji Masagung sudah dipanggil Yang Kuasa. Kendatipun begitu, saya telah bertekad untuk melanjutkan cita-cita almarhum suami saya untuk membangun pondok pesantren di kawasan Citeureup.

Kwee Se Kay (Budi Mulia Sugiharto) : Mulai Percaya dari Surat Al-Fatihah

Selama ini aku sudah bisa mengislamkan 60 orang non-Muslim, termasuk orang Amerika, tapi istriku sendiri belum masuk Islam. Aku anggap ini suatu ujian yang diberikan Allah kepadaku.
AKU bernama Kwee Se Kay, dilahirkan di Purwakarta tanggal 24 April 1952. Aku dilahirkan dari buah perkawinan dari ayahku yang bernama Kwee Cang Lang dan ibuku Sow Fe Ing. Orangtuaku bekerja sebagai wira usaha, dari situlah aku mulai belajar mencari uang, sampai sekarang usaha foto copy dan alat-alat tulis tersebut aku lanjutkan, usaha tersebut sudah cukup untuk membiayai keluarga.
Kalau orangtua saat itu masih memeluk agama Kong Hu Chu, aku juga masih memeluk agama orangtuaku, dan aku juga pernah masuk agama kristen namun hanya sebentar. Dari 13 bersaudara aku adalah anak yang ke-9, dan hanya aku saja yang masuk Islam.
Walaupun kedua orangtuaku tidak menyetujui dan tidak memberikan respon, berkat keyakinanku akhirnya aku mengikrarkan diri mengucapkan dua kalimah syahadat, aku resmi memeluk agama Islam pada tahun 1985 di al-Hidayah Purwakarta di bawah bimbingan Bapak Maksum Effendi BA, Bapak Komar Nuryaman, dan Bapak Mukhtar. Beliau-beliau ini juga yang merupakan pembimbingku dalam menekuni ajaran Islam. Kini aku telah berganti nama menjadi Budi Mulia Sugiarto.
Sebenarnya, aku mulai tertarik terhadap agama Islam, pada waktu aku di hadapkan pada suatu permasalahan besar yaitu aku harus berhadapan dengan seseorang yang aku anggap masalah ini akan mengorbankan perasaan dan keberanianku, di sini aku mencoba memecahkan masalah dengan membaca surah al-Fatihah sebelum aku melangkah dari rumah, dan alhamdulillah masalah ini dapat diselesaikan dengan baik, aku tidak menyangka bahwa dengan membacakan surat al-Fatihah saja orang yang aku hadapi akan berbalik takut padaku. Dari sini aku mulai berpikir, dengan membacakan surat al-Fatihah saja masalahku ini dapat terselesaikan dengan baik, sedangkan saat itu aku belum menjadi seorang muslim, begitu manjur, apalagi kalau aku sudah menjadi seorang muslim mungkin akan lebih manjur lagi. Kejadian ini berkisar sekitar tahun 1981.
Misi terhadap Keluarga
Misiku terhadap keluarga adalah untuk dapat mengislamkan keluarga, kebetulan pada saat ini, istriku belum menjadi seorang Muslim. Tapi alhamdulillah berkat hidayah dari Allah, ketika aku berdo’a di Multajam Mekkah di situ ada kejadian aneh yaitu waktu aku meminta kepada Allah ada yang mengucapkan qobul-qobul sampai tiga kali dan setelah aku lihat kesekelilingku orang yang mengucapkan qobul tadi tidak ada, aku berharap yang menyebutkan qobul tadi adalah malikat. Dan mudah-mudahan dengan do’a tadi istriku bisa masuk Islam, setelah aku pulang ke Indonesia istriku ingin masuk Islam, insya Allah tahun depan kami akan bersama-sama berangkat ke Makkah dan aku minta doa dari pembaca sekalian mudah-mudahan kami bisa berangkat ke tanah suci sekaligus mengislamkan istriku.
Aku menganggap hal ini merupakan cobaan dari Allah, karena dengan hal ini merasa tersendat. Aku teringat dalam surat al-Ankabut ayat 2: “Apakah manusia cukup (begitu saja) mengatakan, kami telah beriman, sedangkan mereka tidak di uji”. Maksudku di sini, selama ini aku sudah bisa mengislamkan nonmuslim sebanyak 60 orang termasuk orang Amerika yang bekerja di Indosap yang bernama Job Martin salah satunya, tapi istriku sendiri belum menjadi seorang muslim. Aku anggap ini suatu ujian yang diberikan Allah kepadaku.
Pernah terjadi dialog ketika aku mengadakan pengajian ibu-ibu, ada seorang ibu bertanya kepadaku, “Saya akui, dakwah yang bapak uraikan sudah mantap, tapi kenapa istri bapak sendiri belum masuk Islam?” Aku menjawab, Allah berfirman dalam surat al-Qosas ayat 56 yang berbunyi, “Sesungguhnya engkau Muhammad, tidak akan memberikan petunjuk pada orang-orang yang engkau cintai, kecuali aku (Allah) yang bisa memberikan petunjuk kepada orang yang aku kehendaki”. Karena taufik dan hidayah itu datang dari Allah. Jadi dalam hal ini bukannya aku tidak bisa mengislamkan istriku, mungkin taufik dan hidayah belum turun dari Allah, jangan kita mahkluk Allah yang biasa, Nabi Muhammad pun tidak bisa mengislamkan pamannya sendiri. Jadi, di sini jelas sekali bahwa manusia tidak berbuat apa-apa kecuali ada taufik dan hidayah dari Allah.
Kalau dalam keluarga alhamdulillah sudah dikaruniai dua orang anak dan kedua-duanya juga sudah masuk Islam. Yang satu sudah masuk sekolah di SMPN I Purwakarta bernama William Permana, dan yang satu lagi bernama Lena Karela sekolah di SD Yosudarso Purwakarta, dan nama istriku Leni Herawati.
Konsep Hidup
Konsep hidup dalam keluargaku adalah harus hidup bagaikan lebah yang dapat memberikan sari pati madu yang manis kepada setiap orang, dan dapat memberikan contoh yang baik. Sehingga orang bisa mencontoh kelakuan baik kita. Dan sekarang aku sangat bersyukur sekali kepada Allah bahwasanya sampai saat ini aku dapat memberikan suri tauladan yang baik kepada masyarakat. Sehingga orang yang non muslim pun ada yang mengikuti konsep hidupku termasuk orang Amerika yang sudah aku sebutkan di atas. Karena Allah berfirman dalam surah An-Nashr yang berbunyi, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji tuhanmu dan mohon ampun kepadanya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat”. Maka disinilah kita perlu ketahui bahwa Islam itu sesunguhnya adalah demi kepentingan seluruh umat dan memberikan kehidupan yang lebih baik dan hal ini juga sudah dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad Saw, yaitu memberikan suri teladan yang baik, aku sebagai Muslim harus mempunyai pandangan ke sana.
Setelah aku masuk Islam, tiga tahun kemudian aku disuruh menjadi imam dan khotib shalat Jumat dan Idul Fitri, sampai sekarang pun insya Allah aku masih melakukan dakwah. Juga yang sangat aku syukuri aku bisa membina umat karena seperti dikatakan Nabi kita, “Sampaikanlah kepadaku walaupun satu ayat”. Dan Allah mengatakan bahwa jihad fisabilillah itu harus dibarengi dengan harta, ini juga sudah aku lakukan walaupun sedikit dakwah yang dilakukan hanya di Purwakarta saja, di kota lain pun aku pernah seperti di Brebes, Bandung, dan kota lainnya. Seperti dituturkan pada Iman R (Sumber http://www.swaramuslim.com)

Tidak Jadi Murtad, Karena Bermimpi Diberikan Sajadah Dan Mukena Oleh Yesus

Kisah nyata hubungan pacaran antara dua insan beda agama di Manado beberapa waktu lalu, membuat kami turun tangan mengatasinya. Pasalnya Nur Aini (22 tahun) bertahan dengan keislamannya, dan Obet (24 tahun) panggilan akrab pemuda asal Sanger, juga tetap bertahan dengan Kristen Adventnya. Kedua insan ini sama-sama berusaha meyakinkan kebenaran agamanya. Namun hasilnya tetap nihil. Dengan referensi buku-buku kami, Nur Aini berusaha yakinkan Obet masuk Islam. Tapi Obet tidak diam begitu saja. Diapun berusaha meyakinkan Nur Aini sang kekasihnya mengikuti agamanya. Nur Aini diserang dengan menggunakan Qur`an, terutama mengenai bidadari-bidarari yang akan melayani kita di surga nanti, dan adanya sungai-sungai yang mengalir di dalam surga, dianggapnya tidak rasional. Ditambah lagi masalah poligami dan tulisan Murtadin Yusuf Roni dan juga VCD Makhrus Ali at-Tamimi cukup ampuh, apalagi VCD Pendeta yang mengaku Habaib ini (keturunan nabi) sangat mengganggu Nur Aini, sebab pikirnya keturunan Habaib aja masuk Kristen, apalagi dia yang awam.
Karena seringnya dia didoktrin oleh Obet kekasihnya, sampai-sampai Nur Aini bermimpi bertemu Yesus. Tapi anehnya dalam mimpi tersebut menurut Nur Aini, bukan Alkitab/Injil yang diberikan Yesus kepadanya, tapi seperangkat alat shalat yaitu Sajadah dan Mukena. Hal ini membuat Nur Aini bingung.
Ketika Nur Aini mengetahui kedatangan kami di Manado melalui seseorang teman beberapa hari lalu, dengan sangat ia mengharapkan agar bisa dipertemukan langsung dengannya dan kekasihnya.
Pada pertemuan tersebut Obet ingin agar Nur Aini ikut agamanya. Menurutnya, semua agama sudah dia coba: Katolik, Protestan, Islam dan Advent. Ternyata pilihan terakhirnya jatuh pada Advent karena dalam agama ini katanya, ia menemukan ketenangan dan kesabaran. Dalam Islam dia tidak menemukan hal tersebut, sebab setiap dia bertanya tentang Islam kepada beberapa orang, jawabannya selalu tidak memuaskan, apalagi tentang poligami dan adanya kesaksian Pendeta Makrus Ali at Tamimi keturunan Habaib yang membeberkan ketidakbenaran Islam. Sungguh luar biasa, dalam usia 24 tahun Obet telah mencoba empat agama.
Setelah kami jelaskan bahwa Pendeta Makrus Ali at Tamimi tersebut telah masuk Islam, dan semua kesaksiannya adalah bohong, Obet agak down, hampir tidak percaya. Kami perlihatkan bukti CD masuk Islamnya Pendeta penghujat Islam tersebut. Ini berarti umat Kristiani terlalu mudah ditipu oleh Makrus Ali.
Mengenai poligami, kami buktikan bahwa dalam Alkitab, Nabi Daud punya beberapa Istri dan gundik. Nabi Yaqub punya 4 istri (Kej 29). Nabi Salomonq punya 700 istri dan 300 gundik (1 Raj 11:3). Jadi Nabi Muhammad bukan ajarkan poligami, tapi justru kedatangan beliau meluruskan dan membatasi laki-laki berpoligami, sebab zaman dahulu tidak ada batasan dalam berpoligami.
Selanjutnya Obet jelaskan bahwa satu-satunya agama yang paling jelas hari peribadatannya adalah Advent. Sebab sejak Allah ciptakan alam semesta, sampai sekarang, Sabat tetap dipelihara dan dikuduskan oleh penganutnya. Mereka komitmen memelihara dan mengkuduskan Sabat sebagai hari perhentian. Sebab Allah menciptakan alam semesta dalam enam hari, dan pada hari ketujuh Allah beristirahat. Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.” (Kel 31:17)
Obet bertanya, “kenapa umat Islam beribadah pada hari Jumat, padahal ada beberapa ayat dalam Al Qur`an yang mengkuduskan hari Sabat?”. Kami jawab, bahwa Al Qur`an tidak menyuruh umat Islam mengkuduskan hari Sabat, sebab ayat tersebut berbicara tentang orang-orang Yahudi yang melanggar hari Sabat, sehingga mukanya diubah jadi kera.
Jika Tuhan berhenti dan beristirahat tidak melakukan kegiatan apapun pada hari ketujuh, berarti Tuhan kelelahan bekerja selama enam hari. Alam semesta ini sejak dahulu sudah hancur berantakan jika tidak dikendalikan Tuhan selama sehari.
Kami jelaskan bahwa Tuhan bukan manusia yang harus merasakan kelelahan.
Sebenarnya Sabat hanya khusus untuk orang Israel saja. Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu. (Alkitab, Kel 31:12-13)
Menurut Al Qur`an, penciptaan alam semesta bukan enam hari seperti hari-hari perhitungan manusia, tapi enam masa. Enam masa menunjukkan waktu yang panjang, sebab satu hari menurut Allah, sama dengan 1.000 tahun menurut perhitungan manusia. Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian naik (kembali) kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitungan kamu. (Qs 32 As Sajdah 5)
Alkitab juga jelaskan bahwa sehari di sisi Allah, sama dengan 1.000 tahun menurut manusia: “Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari” (II Petrus 3:8)
Allah dalam Al Qur`an tidak perlu berhenti bekerja apalagi beristirahat, sebab Dia bukan manusia yang perlu istirahat karena kelelahan bekerja. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan tidaklah menyentuh Kami kelelahan” (Qs 50 Qaaf 38)
Kami suruh Obet pikirkan dan katakan dengan jujur, mana yang lebih rasional ayat Alkitab atau Al Qur`an. Obet mengaku baru kali ini dia menemukan orang yang bisa menjelaskan Islam dengan baik padanya. Dia mengaku dan bersedia akan mendalami Islam dan bersedia mengkritisi Alkitabnya.

Estanislao Soria, Pendeta Katolik Filipina yang Menemukan Cahaya Islam

Soria melakukan riset sejarah dan sosial serta membaca artikel-artikel tentang Islam, untuk memperkuat argumennya menolak tuntutan gerakan Moro yang ingin menjadikan Mindanao sebagai tanah air bagi Muslim Filipina. Tapi siapa nyana menyangka, artikel-artikel tentang Islam yang ia baca, justru membawanya menjadi seorang Muslim. Berikut ceritanya.
Ketika tokoh Muslim Moro, Nur Misuari menyatakan wilayah Mindanao harus memisahkan diri dari Filipina dan menjadi negara Islam, Estanislao Soria menjadi orang yang paling menentang keinginan Misuari. Sebagai seorang tokoh agama Katolik yang lahir di Mindanao, ia menolak keras jika tanah kelahirannya diambil alih oleh orang-orang Muslim.
“Saya sangat tidak setuju dengan Misuari dan saya memelopori kampanye menentang gerakan Moro,” kata Soria yang populer di panggil “Father Stan”. Ketika itu, selain dikenal sebagai pendeta Katolik, Soria juga dikenal sebagai seorang sosiolog.
Sebagai seorang cendikiawan, ia tidak mau sembarangan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keinginan Misuari. Soria pun melakukan riset sejarah dan sosial serta membaca artikel-artikel tentang Islam, untuk memperkuat argumennya menolak tuntutan gerakan Moro yang ingin menjadikan Mindanao sebagai tanah air bagi Muslim Filipina. Tapi siapa nyana, artikel-artikel tentang Islam yang ia baca, justru membawanya menjadi seorang Muslim.
“Sebagai orang yang memahami bahasa Latin, Yunani dan Yahudi, saya pikir saya bisa mempelajari bahasa Arab dengan mudah. Saya juga ingin menerjemahkan tulisan-tulisan berbahasa Arab ke bahasa Inggris dan menerjemahkan ideologi-ideologi Barat, misalnya ideologi eksistensialisme, ke dalam bahasa Arab. Tapi saya menyadari, ini adalah pekerjaan yang sulit,” kata Soria seperti dikutip dari Islamonline.
Ketika itu Soria meyakini, dengan banyak menerjemahkan artikel-artikel tentang ideologi Barat ke dalam bahasa Arab, akan membuat Muslim di Mindanao menghargai ajaran Kristen daripada ajaran Islam. “Saya ingin membuka wawasan berpikir mereka tentang kekristenan karena saya banyak mendengar hal-hal negatif tentang Muslim. Saya berpikir, mereka (Muslim) harus dididik,” ungkap Soria.
Tapi semakin ia mendalami bacaan-bacaanya tentang kekristenan, ia makin menyadari bahwa tokoh-tokoh gereja seperti Saint Thomas Aquinas ternyata banyak belajar dari buku-buku bacaan dan ajaran Islam. Begitu juga ideologi-ideologi dan ilmu teologi yang disebut-sebut sebagai berasal dari Barat, ternyata sudah sejak lama dibahas dalam Islam.
“Dari bacaan-bacaan itu saya mendapat pencerahan bahwa pemikiran-pemikiran tentang peradaban Barat banyak banyak yang mengambil dari ajaran-ajaran Islam. Dan setelah saya membaca lebih banyak lagi buku-buku yang ditulis pakar agama Islam, pandangan saya terhadap Islam seketika berubah,” papar Soria.
“Saya bahkan menyadari bahwa Injil Barnabas lebih kredibel dibandingkan dengan keempat injil yang dibawa oleh ajaran evangelis termasuk injil Kristen. Dari hasil riset sosiologi yang saya lakukan, saya juga banyak menemukan bahwa hal-hal negatif yang sering saya dengar tentang Muslim Filipina ternyata tidak benar,” tambah Soria.
Akhirnya, pada tahun 2001, Soria yang telah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun sebagai pendeta di berbagai kota di Manila, menyatakan diri masuk Islam. Setelah mengucap syahadat, ia mengganti namanya menjadi Muhammad Soria. Meski demikian, masih banyak orang, termasuk teman-temannya yang Muslim memanggilnya “Father Stan.”
Soria yang kini berusia 67 tahun mengatakan, ia mendapat hinaan dan kecaman dari kerabat dan rekan-rekan gerejanya ketika memutuskan menjadi seorang Muslim. Namun hinaan dan kecaman itu tidak membuatnya berat menanggalkan aktvitas kependetaan yang sudah dijalaninya selama 14 tahun dan membuatnya mantap untuk memeluk Islam.
Seiring perjalanan waktu, Soria mulai terbiasa menjalani kewajiban-kewajibannya sebagai seorang Muslim. Bagi Soria, Islam bukan sekedar agama tapi sudah menjadi jalan hidupnya. Selama tujuh tahun menjadi seorang Muslim, Soria sudah lima kali menunaikan ibadah haji, menjadi anggota Gerakan Dakwah Islam di Filipina dan tahun 2004 menikah dengan seorang perempuan berusia 24 tahun, setelah sebelumnya menjalani hidup membujang sebagai pendeta Katolik.
“Dalam Islam, kita diajarkan, jika bisa mendisplinkan diri kita, Sang Pencipta akan mengabulkan harapan-harapan kita,” tandas Soria.
Menurut Soria, jika ada satu hal yang harus dicontoh umat Islam dari orang-orang Kristen adalah, gerakan mereka yang terorganisir dan terstruktur dengan sangat rapi. “Dengan memiliki struktur yang kuat seperti yang dimiliki kalangan Kristiani, akan mempermudah penyebaran Islam,” kata Soria.
Salah satu cara untuk memperkuat struktur umat Islam, tambah Soria, Muslim harus membangun universitas-universitas di seluruh dunia seperti yang dilakukan kelompok misionaris Kristen di berbagai belahan dunia.
***

amira mayorga : yesus tidak menuruh umatnta menyembah dirinya

Amira Mayorga, lahir dari keluarga Kristen Protestan yang taat. Kakek dan neneknya seorang pastor, sementara Amira sendiri mengajar sekolah minggu untuk anak-anak. Doktrin Trinitas begitu melekat dalam kehidupan keseharian Amira.
Tak heran kalau Amira agak sulit menerima informasi tentang ajaran Islam, ketika ia bertemu dengan teman-temannya yang Muslim dan berdiskusi tentang Islam, saat ia berkesempatan berkunjung ke Washington DC empat tahun yang lalu.
Ketika itu kata Amira, teman-teman Muslimnya selalu berkata, “Saya tidak memaksa kamu untuk menjadi seorang Muslim, saya hanya menjelaskan tentang Islam.” Amira sendiri tidak terlalu menaruh perhatian pada penjelasan teman-teman Muslimnya tentang Islam, Amira bahkan berpikir bahwa teman-teman Muslimnya-lah yang salah dan ia tetap menganut agamanya, Kristen Protestan. (watch Thousands Hispanics Converting To ISLAM)
Suatu ketika, saat berkunjung ke Guatemala, Amira bertemu dengan seseorang asal Aljazair lewat forum chatting di internet. Keduanya kemudian menjadi sahabat baik dan banyak berdiskusi tentang Islam, terutama tentang konsep ketuhanan dalam ajaran Kristen.
Amira mengakui, ia kehabisan argumen untuk mendukung konsep ketuhanan dalam Kristen. Dan itu mendorongnya menjelajahi dunia maya guna menggali banyak informasi tentang ajaran Islam.
“Saya banyak membaca tentang keindahan Islam dan mulai menyadari bahwa Yesus tidak pernah menyuruh umatnya untuk menyembah dirinya, tapi Yesus menyerukan umatnya untuk menyembah Tuhan yang Esa.
Amira makin tertarik dengan Islam dan pada Ramadhan, ia mulai ikut berpuasa meski puasanya masih belum sempurna.
Selanjutnya, Amira banyak mengikuti kelompok-kelompok diskusi Islam di internet, mulai dari kelompok milis Amr Diab (nama seorang penyanyi asal Mesir) sampai kelompok Allah Alone. Dari dunia maya, Amira banyak bertemu Muslim dari berbagai negara, yang menjadi tempatnya untuk bertanya segala hal tentang Islam.
Amira mulai memilih nama Muslim yang akan digunakannya, tapi ia belum berani untuk mengucap syahadat. Alasannya, sebagai seorang keturunan latin Amerika, ia belum bisa meninggalkan tradisi masyarakat Latin yang tidak jauh dari pesta, minuman beralkohol dan dansa-dansi.
“Saya tidak mau masuk Islam, tapi saya masih melakukan aktivitas seperti itu. Saya berkata pada diri saya sendiri, kalau saya sudah mampu meninggalkan itu semua, saya ingin menjadi seorang Muslim,” ujar Amira.
Amira mulai membaca al-Quran yang dibelinya. Suatu saat ketika minum kopi bersama seorang temannya, Amira mengatakan bahwa ia merasakan kedamaian mengikuti “filosofi” yang ada dalam ajaran Islam dan mengungkapkan keinginannya untuk masuk Islam. Tapi teman baiknya malah menjawab, ” You are crazy.”
Mimpi AnehNamun Amira tetap mempelajari Islam. Hingga suatu malam ia mimpi aneh. Dalam mimpi itu, Amira dan sahabatnya tadi berada dalam sebuah gedung yang sangat luas dan ia duduk di lantai yang sangat tinggi. Di hadapannya ada seberkas sinar yang menembus kaca jendela, dan Amira mengajak sahabatnya untuk keluar dan melihat sinar apakah itu. Sahabatnya takut, namun Amira terus membujuknya.
Sahabat Amira itu akhirnya mau keluar dan mereka menyaksikan sebuah kota yang kosong, gedung-gedung di kota itu nampak tua dan kotor. Keduanya lalu melihat seorang laki-laki datang dengan membawa cemeti. Amira dan temannya ketakutan dan pada saat itu, laki-laki dalam mimpi Amira berkata,”Kamu mengatakan bahwa kamu sudah mengetahui kebenaran, mintalah pertolongan pada Tuhan-mu dari semua ini.”
Sebelum sempat menjawab, Amira terbangun dari tidurnya dan merasa tubuhnya sangat lemah, ia bahkan merasa lumpuh dan tak bisa bergerak sedikitpun. Ia menceritakan mimpinya pada salah seorang sahabat Muslimnya. Sahabatnya itu menyarakan agar Amira segera masuk Islam. Teman Amira lainnya yang beragama Katolik menganggap Amira sedang bingung dan menyarankannya untuk meminta pertolongan “Tuhan” (Yesus) untuk menemukan kedamaian sejati.
Amira masih belum tergerak hatinya untuk memeluk Islam dan kembali melakukan riset di internet tentang Islam dan bertemu dengan seorang Muslimah bernama Dina Stova yang mengirimkannya email-ermail tentang Islam. Amira masih juga mencari-cari alasan ketika Dina menanyakan mengapa ia belum juga mengucap syahadat, hingga sahabatnya itu mengatakan, “Islam adalah agama yang mengajarkan toleransi, cobalah setahap demi setahap.”
Mendengar perkataan Dina, Amira akhirnya menyatakan ingin masuk Islam dan langsung mengucapkan dua kalimat syahadat. “Setelah mengucapkan kalimat syahadat, tiba-tiba saja saya merasakan kedamaian itu. Kedamaian hati yang selama ini saya cari dalam hidup saya. Rasanya sudah jelas, jawabannya adalah Islam. Sekarang dan selamanya, saya adalah seorang Muslimah,” tukas Amira.
Namun Amira harus menghadapi tantangan berat dari keluarganya. Saudara laki-lakinya, sempat setahun tidak mengajaknya bicara setelah tahu ia memeluk Islam. Tapi Allah Maha Besar, pada 16 Oktober 2007 saudara laki-lakinya itu malah ikut masuk Islam dan mengucap dua kalimat syahadat.
Saat ini, Amira terus melakukan pendekatan pada keluarganya, agar seluruh keluarganya juga mau masuk Islam dan menerima pesan-pesan Islam yang disampaikannya. Sebuah perjuangan yang tidak ringan bagi seorang mualaf seperti Amira. (ln/iol/eramuslim

steeve krauss : dari pencak silat menuju islam

Ditulis oleh alqurandansunnah di/pada Januari 29, 2009
Abdul Latif Abdullah, adalah seorang Amerika pemeluk agama Kristen Protestan sebelum memeluk Islam. Namanya yang sekarang adalah nama Islam yang ia pilih setelah mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 30 Juli 1999, sebelumnya ia bernama Steven Krauss. Ketertarikan Krauss pada Islam dimulai ketika ia masih menjadi mahasiswa di sebuah universitas di New York City pada tahun 1998. Ketika itu, ia bukanlah seorang pemeluk Kristen yang taat. Menurutnya, agama Kristen Protestan yang ia peluk sudah tidak relevan lagi dengan jaman sekarang.
“Saya sukar menemukan apapun dalam agama itu yang bisa saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kekecewaan saya terhadap ajaran Kristen membuat saya menutup diri dengan hal-hal yang diklaim sebagai agama yang terorganisir, karena menurut asumsi saya semua agama semacam itu sama saja paling tidak dalam hal tidak aplikatif dan tidak bermanfaatnya agama-agama seperti itu. Oleh sebab itu, saya lebih berminat dengan apa yang diistilahkan sebagai spiritualitas tapi bukan agama,” papar Abdul Latif mengisahkan masa lalunya.
Ia mengaku sulit menerima tentang konsep ketuhanan dan konsep tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan dalam ajaran Kristen, yang menurutnya ganjil. Dalam filosofis Kristen, ungkap Abdul Latif, hubungan antara manusia dengan Tuhan lewat perantara yaitu Yesus, padahal Yesus manusia juga cuma memiliki kelebihan sebagai utusan Tuhan.
“Filosofis hubungan manusia dengan Tuhan yang sulit dan tidak jelas itu membuat saya mencari sesuatu yang bisa memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Tuhan dan hubungan manusia dengan Tuhan. Mengapa dalam Kristen saya tidak bisa berdoa langsung pada Tuhan? Mengapa setiap berdoa saya harus mengawali dan mengakhirinya dengan menyebut ‘atas nama bapak, dan putera dan roh kudus’? Mengapa Tuhan yang Maha harus mengambil bentuk sebagai seorang laki-laki yaitu Yesus, mengapa Tuhan merasa perlu melakukan hal seperti itu?” ujar Abdul Latif.
“Itu cuma sebagian pertanyaan yang tidak mampu saya pecahkan. Saya menginginkan pendekatan yang jelas bersifat langsung dalam sebuah ajaran agama, yang benar-benar memberikan tuntunan pada kehidupan saya dan bukan cuma dogma yang tidak jelas alasannya,” sambungnya.
Ketika masih menjadi mahasiswa, Abdul Latif punya teman sekamar orang Yahudi yang mempelajari Pencak Silat, ilmu bela diri tradisional. Setiap pulang latihan pencak silat dari padepokan yang dipimpin oleh seorang asal Malaysia, ahabatnya itu selalu bercerita tentang keunikan dan kekayaan dimensi spiritual dalam pencak silat. Abdul Latif tertarik dengan cerita sahabatnya itu dan berniat untuk mengetahui pencak silat lebih dalam. Suatu pagi di hari Sabtu, tanggal 28 Februari 1998, ia pun ikut ke tempat latihan pencak silat dan bertemu dengan guru pencak silatnya bernama Sulaiman, seorang Muslim Malaysia. Saat itu, ia tak menyadari bahwa momen itulah yang akan mengantarnya mengenal agama Islam dan menjadi seorang Muslim.
Sejak itu, Abdul Latif banyak menghabiskan waktunya berlatih pencak silat dan belajar Islam dari Sulaiman, gurunya yang sering ia panggil Cikgu (panggilan untuk seorang guru). Ia dan teman sekamarnya yang orang Yahudi itu juga sering berkunjung ke rumah Sulaiman, untuk menggali lebih banyak ilmu pencak silat dan tentu saja tentang agama Islam.
“Orientasi saya terhadap Islam sangat kuat. Ketika saya mempelajarinya, saya seperti sedang menjalankannya. Karena saya belajar di rumah guru saya, hadir di tengah Muslim yang taat membuat saya selalu dikelilingi oleh suara, penglihatan dan praktek-praktek agama Islam. Islam mencakup seluruh aspek kehidupan. Ketika Anda berada dalam lingkungan Islam, Anda tidak bisa memisahkannya dari kehidupan sehari-hari.”
“Tidak seperti ajaran Kristen yang memisahkan antara agama dan kehidupan sehari-hari, Islam mengajarkan umatnya untuk mengintegrasikan ibadah pada Tuhan dengan semua perbuatan kita. Bersama guru saya, saya langsung merasakan dan mengalami kehidupan yang islami dan menyaksikan sendiri bagaimana Islam bisa membentuk cara hidup seseorang secara keseluruhan,” papar Abdul Latif menceritakan pengalamannya pertama kali mengenal dan belajar Islam.
Sebagai orang yang ketika itu menjalani kehidupan yang liberal, Abdul Latif mengaku juga menemui banyak kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan ajaran Islam. Apalagi ketika itu ia antipati dengan segala hal yang bersifat dogmatis, tak peduli asalnya darimana. Seiring dengan perjalanan waktu dan pehamannya tentang Islam makin meningkat, Abdul Latif pelan-pelan melihat bahwa apa yang ia anggap sebagai dogma agama merupakan sebuah gaya hidup yang sebenarnya yang diajarkan Sang Pencipta untuk umatnya. Dan ia menemukannya dalam ajaran Islam.
Abdul Latif akhirnya memutuskan menjadi seorang Muslim dan mengucapkan dua kalimat syahadat pada 30 Juli 1998, atau lima bulan setelah ia datang ke tempat latihan pencak silat dan belajar tentang Islam dengan guru pencak silatnya. Tapi sebelum mengambil keputusan itu, Abdul Latif benar-benar mengeksplorasi dirinya sendiri apakah ia serius untuk masuk Islam. Dua hal penting yang ia tegaskan dalam dirinya adalah pertanyaan tentang gaya hidup masyarakat Amerika dimana ia dibesarkan dulu yang mengukur kebahagiaan hanya berdasarkan pada apa yang kita punya dan apa yang mampu kita beli serta pertanyaan seputar agama apa yang ia inginkan berperan dalam kehidupannya.
Ketika belajar dan akhirnya memeluk Islam, Abdul Latif menyadari betapa menyejukannya cara hidup yang diajarkan Islam. Islam mengajarkan bahwa semua yang kita lakukan harus bertujuan untuk beribadah pada Allah. Islam bukan agama yang bisa dirasionalisasikan seperti agama Kristen dan Yudaisme. Islam memberikan jalan dan petunjuk yang jelas bagi penganutnya untuk diikuti berupa al-Quran dan sunnah Rasulullah saw. (ln/iol)http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/steven-krauss-dari-pencak-silat-menuju-islam.htm

albigael mitaart :aku yakin yesus kristus bukan Allah

Nama saya Abigael Mitaart, lahir di Pulau Bacan, Maluku Utara, 30 Maret 1949, dari pasangan Efraim Mitaart dan Yohana Diadon. Latar belakang agama keluarga kami adalah Kristen Protestan. Ketika beragama Kristen Protestan, saya sama sekali tidak pernah membayangkan untuk memilih agama Islam sebagai iman kepercayaan saya. Hal ini dapat dilihat dari situasi keluarga kami yang sangat teguh pendiriannya pada keimanan Kristus.
Bagi saya, saat itu tidak mudah untuk hidup rukun berdampingan bersama umat Islam, karena sejak masa kanak-kanak telah ditanamkan oleh keluarga agar menganggap setiap orang Islam sebagai musuh yang wajib diperangi. Bahkan kalau perlu, seorang bayi Kristen diberikan pelajaran bagaimana caranya membuang ludah ke wajah seorang muslim. Hal ini mereka lakukan sebagai perwujudan dari rasa kebencian kepada umat Islam. Disanalah, saya tumbuh dalam lingkungan keluarga Kristen yang sangat tidak bersahabat dengan warga muslim.
Tentu saya tidak pernah absen pergi ke gereja setiap hari Minggu. Bahkan, saya berperan dalam setiap Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Misalnya, saya selalu diminta tampil di berbagai kelompok paduan suara untuk pelayanan lagu-lagu rohani di gereja. Selain itu, saya kerap mengikuti kegiatan ” Aksi Natal” yang diselenggarakan oleh gereja dalam rangka pelebaran sayap tugas-tugas misionaris (kristenisasi).
TERTARIK PADA ISLAM
Ihwal ketertarikan saya pada agama Islam berawal dari rasa kekecewaan kepada ajaran-ajaran Kristen dan isi Alkitab yang hanya berisikan slogan-slogan. Bahkan, menurut saya, apabila para pendeta menyampaikan khotbah diatas mimbar, mereka lebih terkesan seperti seorang penjual obat murahan. Ibarat kata pepatah, tong kosong nyaring bunyinya.
Sekalipun saya sudah menekuni pasal demi pasal, ayat demi ayat dalam Alkitab, tetapi tetap saja saya sulit memahami maksud yang terkandung mengenai isi Alkitab. Misalnya, tertulis pada Markus 15:34, Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Lalu, siapakah Yesus Kristus sesungguhnya? Bukankah ia adalah paribadi (zat) Allah yang menjelma sebagai manusia? Lalu, mengapa ia (Yesus) berseru dengan suara nyaring dan mengatakan, �Eli, Eli,..lama sabakhtani? � (Tuhanku,..Tuhanku,.. mengapa Engkau tinggalkan aku?)
Akhirnya saya yakin bahwa Yesus Kristus bukanlah Tuhan. Walaupun sebelumnya iman kepada Yesus Kristus sangat berarti dalam kehidupan saya. Apalagi, ketika itu didukung dengan ayat-ayat dalam Alkitab, seperti tertulis,�Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus Kristus). Sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita diselamatkan.� Kisah Para Rasul 4:12
Kemudian dilanjutkan lagi dengan Yohanes 14:6, �Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapak, kalau tidak melalui Aku (Yesus).�
Setelah membaca ayat ini, kemudian saya mencoba membanding-bandingkan dengan satu ayat yang tertulis dalam QS. 3:19, �Sesungguhnya agama (yang diridhai) pada sisi Allah ialah Islam.�
Entah mengapa, saya merasakan pikiran saya beru-bah, mungkin ini suatu keajaiban yang luar biasa terjadi dalam diri saya, karena selesai membaca ayat al-Qur�an tersebut, saya mulai merasa yakin bahwa ayat yang tertulis dalam QS. 3:19 itu bukanlah �ayat rekayasa� dari Nabi Muhammad, tetapi ayat tersebut sesungguhnya adalah firman Allah yang hidup dan kehadiran agama Islam langsung mendapat ridha dari Allah SWT.
Betapa sulitnya seorang Kristen seperti saya bisa memeluk agama Islam, tetapi saya yakin dengan keputusan untuk masuk agama Islam, karena saya berkesimpulan apabila seorang beragama Kristen kemudian memilih agama Islam, selain karena mendapat hidayah, ia juga termasuk umat pilihan Allah SWT. Alhamdulillah, singkat cerita pada tanggal 22 Desember 1973, disebuah pulau terpencil bernama Pulau Moti di wilayah Makian, Maluku Utara dengan disaksikan warga muslim setempat, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Tanpa terasa air mata kemenangan berlinang, sehingga suasana menjadi hening sejenak, keharuan amat terasa saat peristiwa bersejarah dalam hidup saya itu berlangsung. Usai mengucap dua kalimat syahadat, nama saya segera saya ganti menjadi Chadidjah Mitaart Zachawerus.
Keputusan saya untuk memilih Islam harus saya bayar dengan terusirnya saya dari lingkungan rumah, pengusiran ini tidak menggoyahkan iman dan Islam saya, karena saya yakin akan kasih sayang Allah SWT, senantiasa tetap memelihara saya dalam lindungan-Nya.
�Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah tidak menolong kamu, maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu selain dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin berserah diri.� QS. 3:160
Alhamdulillah, pada bulan Juni 1996, saya bersama suami, Sulaiman Zachawerus, menunaikan rukun Islam kelima, pergi haji ke Baitullah.
( al-islah/eramuslim)

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
blog ini bersumber dari berbagai situs islami yang terposting lewat milis mediaumat : dari voa-islam ,eramuslim , mediaumat , khilafah , syabab , arrisalah , arrahmah , hibut-tahrir